BPS mencatat jumlah penduduk miskin Papua Barat pada September 2025 turun menjadi 102,40 ribu orang, meski kemiskinan di wilayah perkotaan justru mengalami peningkatan.
Papuabaratnews.id, Manokwari — Persentase penduduk miskin di Provinsi Papua Barat pada September 2025 tercatat sebesar 19,58 persen atau sekitar 102.400 orang. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 1,08 persen poin dibandingkan kondisi Maret 2025 yang berada di level 20,66 persen, sekaligus berkurang sekitar 4,5 ribu orang dalam enam bulan terakhir.
Kepala BPS Provinsi Papua Barat, Merry, menjelaskan bahwa penurunan kemiskinan terjadi terutama di wilayah perdesaan.
“Secara total, jumlah penduduk miskin di Papua Barat pada September 2025 sebanyak 102,40 ribu orang, turun sekitar 4,5 ribu orang dibandingkan Maret 2025,” ungkap Merry dalam siaran pers Berita Resmi Statistik (BRS) di Manokwari, Kamis (5/2/2026).
Ia merinci, pada September 2025 jumlah penduduk miskin di perdesaan tercatat 86,25 ribu orang, turun 5,7 ribu orang dibandingkan Maret 2025 yang mencapai 91,95 ribu orang.
Sebaliknya, di wilayah perkotaan justru terjadi kenaikan jumlah penduduk miskin, dari 14,94 ribu orang pada Maret 2025 menjadi 16,16 ribu orang pada September 2025 atau naik sekitar 1,22 ribu orang.
Dari sisi persentase, kemiskinan Papua Barat mengalami tren menurun secara konsisten. Pada September 2024, tingkat kemiskinan tercatat 21,09 persen, turun menjadi 20,66 persen pada Maret 2025, dan kembali menurun menjadi 19,58 persen pada September 2025.
Dengan capaian ini, Papua Barat masih berada di kelompok provinsi dengan tingkat kemiskinan relatif tinggi secara nasional, namun menunjukkan perbaikan dibandingkan periode sebelumnya.
BPS juga mencatat bahwa garis kemiskinan di Papua Barat pada September 2025 mengalami kenaikan sebesar 4,53 persen dibandingkan Maret 2025. Secara total, garis kemiskinan (perkotaan dan perdesaan) tercatat sekitar Rp868.631 per kapita per bulan, dengan komponen makanan masih mendominasi, yakni 74,22 persen, sementara komponen bukan makanan sebesar 25,78 persen.
Menurut Merry, penurunan kemiskinan ini tidak terlepas dari membaiknya beberapa indikator sosial ekonomi, seperti pertumbuhan konsumsi rumah tangga, peningkatan nilai tukar petani, serta kenaikan rata-rata pengeluaran per kapita pada kelompok rumah tangga terbawah yang lebih tinggi dibandingkan kenaikan garis kemiskinan.
“Perbaikan kondisi sosial ekonomi tersebut menjadi faktor penting dalam menekan jumlah dan persentase penduduk miskin di Papua Barat,” ujarnya. (pbn)


***
***





