Inflasi Desember 2025 naik 1,60 persen, transportasi dan pangan jadi pendorong utama
Papuabaratnews.id, Manokwari –- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Provinsi Papua Barat mengalami inflasi tahunan (year-on-year/yoy) sebesar 2,59 persen sepanjang tahun 2025. Angka ini berada di bawah inflasi nasional yang mencapai 2,92 persen, sekaligus masih dalam rentang target inflasi 2025 sebesar 2,5±1 persen.
Pada Desember 2025, Papua Barat juga mengalami inflasi bulanan (month-to-month/mtm) sebesar 1,60 persen, sementara inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) hingga Desember 2025 tercatat 2,59 persen, sejalan dengan inflasi tahunan.
Kepala BPS Papua Barat, Merry, mengatakan capaian tersebut menunjukkan stabilitas harga di Papua Barat masih terjaga.
“Inflasi tahunan Papua Barat sebesar 2,59 persen masih berada dalam sasaran inflasi nasional. Ini menunjukkan pengendalian harga selama 2025 berjalan cukup baik,” ujarnya dalam konferensi pers di Manokwari, Senin (5/1/2026).
Inflasi tahunan 2025 didorong oleh kenaikan harga pada hampir seluruh kelompok pengeluaran. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 2,28 persen, disusul transportasi yang mencatat inflasi tertinggi sebesar 6,79 persen.
Kelompok lain yang turut mengalami kenaikan antara lain rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 6,53 persen, perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 6,43 persen, serta penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 4,63 persen.
“Sementara itu, dua kelompok justru mengalami penurunan indeks harga, yakni perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga yang mengalami deflasi 1,51 persen, serta pendidikan yang turun 2,37 persen,” ujarnya.
BPS mencatat kelompok transportasi menjadi penyumbang utama inflasi tahunan Papua Barat dengan andil 0,82 persen. Komoditas dominan pada kelompok ini antara lain tarif angkutan udara, bensin, dan mobil.
Selain itu, kata Merry, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga memberikan andil signifikan terhadap inflasi tahunan, terutama melalui komoditas beras, cabai rawit, dan daging babi.
Untuk inflasi bulanan Desember 2025, penyumbang utama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil sebesar 1,35 persen. Komoditas yang paling dominan mendorong kenaikan harga pada bulan tersebut adalah cabai rawit, daging babi, dan bawang merah
“Sebaliknya, beberapa komoditas seperti biaya pendidikan dasar dan menengah, ikan ekor kuning, serta tempe tercatat memberikan andil deflasi pada Desember 2025.” jelasnya.
Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 101/PMK.010/2021, target inflasi nasional tahun 2024–2025 ditetapkan sebesar 2,5±1 persen. Dengan inflasi tahun kalender sebesar 2,59 persen, Papua Barat masih berada dalam rentang target tersebut.
“Sejumlah komoditas yang perlu mendapat perhatian karena sering menyumbang inflasi sepanjang tahun kalender, antara lain bakso siap santap, emas perhiasan, beras, bensin, bayam, cabai rawit, gula pasir, bahan bakar rumah tangga, bawang merah, kangkung, serta sewa rumah,” kata Merry. (pbn)


***
***





