banner 468x60 *** banner 468x60 ***

BPS Catat Inflasi Bulanan November 2025 di Papua Barat sebesar 0,65 Persen

Tangkapan layar -- Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Papua Barat Lasmini dalam konferensi pers pada Senin (1/12/2025). (Dok. Istimewa)
banner 120x600

Komoditas yang dominan mendorong inflasi kelompok pengeluaran adalah tarif Angkatan udara yang memberikan andil inflasi sebesar 0,43 persen.

 Papuabaratnews.id, Manokwari — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada November 2025 terjadi inflasi bulanan sebesar 0,65 persen (month to month). Sedangkan secara tahunan dan tahun kalender inflasi November tercatat masing-masing sebesar 1,33 persen (year on year) dan 0,98 persen (year to date).

banner 325x300

Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Papua Barat Lasmini mengatakan kelompok pengeluaran penyumbang inflasi bulanan terbesar adalah transportasi dengan inflasi sebesar 3,84 persen dan memberikan andil inflasi sebesar 0,48 persen.

“Komoditas yang dominan mendorong inflasi kelompok ini adalah tarif angkutan udara yang memberikan andil inflasi sebesar 0,43 persen,” kata Lasmini dalam konferensi pers pada Senin (1/12/2025).

Ia menjelaskan, selain transportasi, beberapa kelompok pengeluaran lain juga mengalami kenaikan harga dan turut menyumbang inflasi. Kelompok pakaian dan alas kaki mengalami inflasi 1,44 persen dengan andil 0,06 persen, sementara kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya naik 0,71 persen dengan andil 0,04 persen. Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran turut mencatat inflasi 0,38 persen dan memberikan andil 0,02 persen.

Pada sisi komoditas, selain tarif angkutan udara, sejumlah komoditas bahan pangan juga mendorong terjadinya inflasi. Tomat memberikan andil inflasi 0,19 persen, beras sebesar 0,09 persen, ikan kakap merah sebesar 0,04 persen, serta kangkung dan daging ayam ras masing-masing 0,03 persen.

Sementara itu, beberapa komoditas mengalami penurunan harga sehingga menahan laju inflasi, antara lain ikan cakalang (-0,10 persen), ikan tuna (-0,08 persen), ikan layang/momar (-0,06 persen), serta bawang merah dan bayam masing-masing (-0,03 persen). Faktor penahan inflasi ini terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

BPS mencatat inflasi di Papua Barat pada November 2025 lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami deflasi, namun masih berada di bawah inflasi bulan yang sama tahun lalu. Dengan capaian ini, tingkat inflasi Papua Barat tetap berada dalam rentang target nasional yang ditetapkan pemerintah untuk tahun 2025.

Sementara itu secara tahunan, pada November 2025 terjadi inflasi sebesar 1,33 persen atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 107,57 pada November 2024 menjadi 109,00 pada November 2025.

Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahunan ini utamanya didorong oleh kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya, yang mengalami inflasi 6,14 persen dan memberikan andil inflasi sebesar 0,34 persen.

Adapun komoditas dengan andil inflasi terbesar pada kelompok tersebut adalah emas perhiasan, yang menjadi pendorong utama inflasi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya.

“Kelompok pengeluaran yang masih mengalami deflasi secara tahunan pada November 2025 adalah komoditas ikan tuna, ikan ekor kuning, dan ikan kakap merah yang masing-masing mengalami deflasi sebesar 0,21 persen, 0,18 persen, dan 0,14 persen, dengan andil deflasi yang sama besarnya, yakni -0,21 persen, -0,18 persen, dan -0,14 persen,” ucap Lasmini. (pbn)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *