Papuabaratnews.id, Manokwari – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat luasan panen padi di Papua Barat pada 2025 diperkirakan menurun sebesar 49,25 persen dibandingkan luas panen padi di 2024 yang sebesar 5,12 ribu hektare.
Kepala BPS Papua Barat, Merry, menyampaikan di Manokwari, Senin (3/11/2025), bahwa data tersebut berasal dari Survei Kerangka Sampel Area (KSA) Amatan September 2025.
“Luas panen padi Papua Barat pada 2025 diperkirakan sekitar 2,59 ribu ha,” ujarnya.
Dari Januari hingga September, realisasi luas panen tercatat sebesar 1,84 ribu hektare, sementara potensi panen untuk periode Oktober hingga Desember 2025 diperkirakan 0,76 ribu hektare.
Sementara itu, produksi padi dalam bentuk Gabah Kering Panen (GKP) pada 2025 diperkirakan mencapai 15,44 ribu ton, turun sebesar 8,75 ribu ton atau 36,19 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 24,19 ribu ton GKP.
Dalam bentuk Gabah Kering Giling (GKG), produksi padi 2025 diperkirakan sebanyak 13,23 ribu ton, turun 7,50 ribu ton dibandingkan produksi 2024 yang mencapai 20,73 ribu ton GKG.
Jika dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, maka produksi beras Papua Barat pada 2025 diperkirakan sekitar 7,95 ribu ton, atau turun 4,51 ribu ton dari tahun sebelumnya.
BPS mencatat bahwa penurunan produksi terbesar terjadi di Kabupaten Manokwari, Manokwari Selatan, dan Teluk Bintuni, yang merupakan sentra utama produksi padi di Papua Barat. Sebaliknya, peningkatan produksi tercatat di Kabupaten Fakfak dan Teluk Wondama.
Merry menjelaskan, perbedaan pola panen juga berpengaruh terhadap total produksi tahun ini. Puncak panen padi pada 2025 terjadi pada bulan Mei dengan luas panen mencapai 0,51 ribu hektare, lebih rendah dibandingkan puncak panen pada April 2024.
Penurunan produksi ini, menurut BPS, menjadi gambaran tantangan sektor pertanian pangan di Papua Barat, khususnya pada wilayah dengan ketergantungan tinggi terhadap pola tanam dan curah hujan musiman. (pbn)


***
***





