Papuabaratnews.id, Manokwari – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa tingkat inflasi Oktober 2025 di Papua Barat mencapai 1,42% secara tahunan (year on year/YoY), naik dari posisi September 2025 yang senilai 1,02%.
“Inflasi tahunan Oktober 2025 lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya namun lebih rendah dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya,” ungkap Kepala BPS Papua Barat Merry dalam rilis berita resmi statistik di Manokwari, Senin (3/11/2025).
Inflasi tahunan terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya hampir seluruh indeks kelompok pengeluaran. Kelompok pengeluaran penyumbang terbesar atau faktor penyebab inflasi Oktober 2025 adalah kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan inflasi 5,97%, dengan andil inflasi 0,34%. Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok ini adalah emas perhiasan dengan andil inflasi 0,29%.
Berdasarkan pantauan media ini, kenaikan harga emas perhiasan pada Oktober 2025 sejalan dengan tren naiknya harga emas global dan permintaan dalam negeri. Di wilayah Papua Barat, harga emas perhiasan rata-rata meningkat sekitar 0,3 persen dibanding bulan sebelumnya, dan secara tahunan masih mencatat kenaikan lebih dari 2 persen dibanding Oktober 2024. Kenaikan ini menjadikan emas perhiasan sebagai komoditas non-pangan yang paling konsisten menyumbang inflasi sepanjang 2025.
Selain itu, kelompok pengeluaran selanjutnya yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan Oktober 2025 adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau tercatat inflasi 1,55% dan memberikan andil inflasi 0,54%. Komoditas yang mendorong inflasi pada kelompok ini adalah ikan cakalang, dengan andil inflasi 0,56%. Beras juga berkontribusi inflasi 0,26%, lalu terdapat bawang merah dengan andil inflasi 0,13%. sigaret kretek mesin (SKM) 0,12%; ikan tuna dan tomat masing-masing sebesar 0,08%.
Kenaikan harga juga terjadi pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 1,87%; kelompok kesehatan 1,72%; kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,52%; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya 5,91%; kelompok pendidikan 2,80%; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran 4,13%.
“Meskipun sebagian besar kelompok pengeluaran mengalami inflasi, kelompok pakaian dan alas kaki mencatatkan deflasi 0,08%; kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga 2,19% dan kelompok transportasi 1,49%,” sebutnya.
Berbeda dengan pergerakan tahunan, secara bulanan Papua Barat justru mencatatkan deflasi 0,19% (month to month/MtM) pada Oktober 2025. Angka ini lebih rendah dibandingkan bulan yang sama tahun lalu namun berbanding terbalik dibandingkan bulan sebelumnya, September 2025, yang terjadi inflasi 0,97% (MtM).
“Penurunan harga ini disebabkan oleh turunnya indeks harga pada sejumlah kelompok pengeluaran utama.,” ujar Merry.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar deflasi dengan penurunan indeks sebesar 0,90% dan andil deflasi 0,31% terhadap deflasi umum. Turunnya harga pada komoditas pangan seperti bawang merah, daging ayam ras, ikan tuna, bayam, dan tomat menjadi faktor utama yang menekan inflasi di kelompok ini.
Selain itu, deflasi juga terjadi pada kelompok transportasi 0,57% dengan andil deflasi 0,07%, seiring turunnya tarif angkutan udara, serta kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga 0,43% dengan andil deflasi 0,02%, dan pakaian dan alas kaki 0,16 dengan andil deflasi 0,01%.
Sementara itu, beberapa kelompok pengeluaran mengalami kenaikan harga, antara lain kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 0,55% dengan andil 0,09%, rekreasi, olahraga, dan budaya 3,33% dengan andil 0,05%, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,97% dengan andil 0,06%.
“Berdasarkan pemantauan harga di lapangan, komoditas yang menjadi penyumbang inflasi bulanan antara lain ikan cakalang, emas perhiasan, bahan bakar rumah tangga, beras, dan upah tukang bukan mandor,” kata Merry.
Kendati demikian, tekanan kenaikan harga tersebut tidak mampu menahan penurunan yang lebih dalam dari kelompok pangan segar, sehingga secara umum Provinsi Papua Barat mencatatkan deflasi. (pbn)


***
***





