Papuabaratnews.id, Manokwari – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat peningkatan nilai tukar petani (NTP) Papua Barat pada September 2025 sebesar 0,61 persen dibandingkan bulan sebelumnya dari 100,93 menjadi 100,32
“Penurunan NTP terjadi karena Indeks Harga yang Diterima Petani (It) turun sebesar 0,59 persen, lebih rendah dari kenaikan indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) yang sebesar 0,01 persen,” kata Kepala Badan Pusat Statistik Papua Barat Merry, dalam jumpa pers Rilis Berita Resmi Statistik di Manokwari, Rabu (1/10/20250.
Merry mengatakan komoditas yang dominan memengaruhi penurunan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) di Papua Barat antara lain cabai merah, cabai rawit, ikan cakalang dan kelapa sawit.
Perkembangan NTP Papua Barat pada September 2025 menunjukkan perbedaan signifikan antar subsektor. Perikanan budidaya (NTPi) tercatat mengalami penurunan NTP tertinggi, yakni 2,17 persen, karena It turun 2,38 persen, lebih tinggi dibandingkan kenaikan Ib sebesar 0,19 persen.
Subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTPR) juga mengalami penurunan, yaitu 0,75 persen. Penurunan ini terjadi meskipun komoditas dominan seperti kopi, kelapa sawit, karet, dan cengkeh memengaruhi It secara signifikan.
Sementara itu, subsektor peternakan (NTPT) justru mengalami kenaikan NTP 1,51 persen. Hal ini disebabkan oleh kenaikan It sebesar 1,62 persen, lebih tinggi dari kenaikan Ib 0,11 persen.
“Komoditas yang menjadi penyumbang utama kenaikan ini antara lain ayam ras pedaging, telur ayam ras, ayam kampung, dan sapi potong,” sebutnya.
Pada subsektor perikanan tangkap (NTN), NTP tercatat naik 0,14 persen. Kenaikan ini terjadi karena It naik 0,17 persen, lebih tinggi dari Ib yang naik 0,03 persen. Peningkatan It sebagian besar dipicu oleh naiknya harga ikan tongkol dan ikan teri di laut 0,13 persen, sementara kelompok komoditas di perairan umum, khususnya udang, mengalami penurunan harga 0,34 persen.
Berdasarkan wilayah Sulampua, yang mencakup Sulawesi, Maluku, Papua, dan Papua Barat, menunjukkan perkembangan NTP yang beragam pada September 2025. Secara keseluruhan, beberapa provinsi di wilayah ini mengalami kenaikan NTP, sementara provinsi lainnya mengalami penurunan.
Kenaikan tertinggi terjadi di Papua Barat Daya, yakni sebesar 5,62 persen, terutama didorong oleh subsektor tanaman hortikultura, khususnya sawi hijau yang mengalami kenaikan harga sebesar 39,16 persen. Sebaliknya, penurunan terbesar terjadi di Papua Selatan, yaitu 4,93 persen, yang dipicu oleh turunnya harga tomat hingga 50,00 persen.
“Perkembangan ini menunjukkan bahwa fluktuasi NTP di Sulampua sangat dipengaruhi oleh harga komoditas unggulan masing-masing provinsi, terutama pada subsektor hortikultura,” kata Merry. (pbn)


***
***





