Iran menyatakan Selat Hormuz kembali terbuka sepenuhnya bagi kapal-kapal komersial selama masa gencatan senjata Israel-Libanon.
Papuabaratnews.id, Jakarta –- Pemerintah Iran menyatakan Selat Hormuz kembali terbuka sepenuhnya bagi kapal-kapal komersial selama masa gencatan senjata antara Israel dan Libanon.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan kebijakan itu berlaku sepanjang periode gencatan senjata.
“Sejalan dengan gencatan senjata di Libanon, jalur bagi semua kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka untuk sisa periode gencatan senjata,” ujarnya melalui X pada Jumat 17 April 2026 seperti dilansir Al Jazeera.
Menlu Iran mengatakan bahwa jalur perkapalan yang dibuka adalah sesuai koordinasi sebagaimana diumumkan otoritas pelabuhan dan kemaritiman Republik Islam Iran.
Gencatan senjata selama 10 hari disepakati Israel dan Libanon pada Kamis malam. Namun, belum jelas apakah kelompok bersenjata Hizbullah akan mematuhinya, di tengah konflik yang masih berlangsung di Libanon Selatan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump turut mengonfirmasi pembukaan jalur pelayaran tersebut. Ia menyebut selat itu sepenuhnya terbuka dan siap untuk aktivitas bisnis serta pelayaran penuh.
Meski begitu, Trump menegaskan tekanan terhadap Iran tetap berjalan. “Blokade akan tetap diberlakukan sepenuhnya hingga tercapai kesepakatan untuk mengakhiri perang,” kata Trump.
“Blokade laut akan tetap diberlakukan secara penuh terhadap Iran, hingga saat di mana transaksi dengan Iran 100 persen selesai,” kata Trump melalui Truth Social.
Namun demikian, Trump optimistis bahwa langkah tersebut tak akan berlangsung lama, mengingat sebagian besar dari poin perundingan telah dinegosiasikan.
Jurnalis Al Jazeera Alan Fisher menilai kecil kemungkinan AS mencabut blokade dalam waktu dekat.
“Peluang bagi AS untuk mencabut blokade angkatan laut sebenarnya tidak pernah terlalu besar karena pemerintahan Trump melihatnya sebagai cara untuk memberikan tekanan lebih pada Iran,” katanya.
Menurut Fisher, fokus utama Washington adalah isu nuklir. “Jika Iran memberikan jaminan tersebut, apa yang akan mereka dapatkan sebagai imbalan menjadi pertanyaan besar,” ujarnya.

Adapun AS dan Iran telah melakukan negosiasi putaran pertama pada Sabtu (11/4) di Islamabad, Pakistan, setelah Presiden Trump mengumumkan telah mencapai kesepakatan dengan Teheran terkait gencatan senjata selama dua pekan.
Namun, pada Minggu pagi (12/4), Wakil Presiden AS J. D. Vance, selaku ketua delegasi AS, menyatakan bahwa Iran dan AS gagal mencapai kesepakatan dalam perundingan tersebut dan delegasi AS kembali tanpa hasil.
Menyusul gagalnya negosiasi awal, Trump mengerahkan Angkatan Laut AS untuk memblokade Selat Hormuz.
Sementara menurut pemberitaan Axios, dikutip RIA Novosti, babak kedua negosiasi antara AS dan Iran akan berlangsung di Islamabad, Pakistan, pada Minggu (19/4).
Kemudian pada Kamis, Trump mengumumkan bahwa Israel dan Lebanon sepakat untuk memulai gencatan senjata selama 10 hari menyusul pembicaraan antara delegasi Lebanon dan Israel yang dimediasi AS di Washington DC.
Konflik yang dimulai pada 28 Februari itu telah menewaskan ribuan orang dan sempat mengganggu lalu lintas energi global. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. (pbn)


***
***





