banner 468x60 *** banner 468x60 ***

Berita  

Dengung Sastra di Tanah Kasuari, Panggung Imajinasi di Tengah Mall

Pentas monolog, salah satu pertunjukan yang ditampilkan di Panggung Sastra Tanah Kasuari, Selasa (16/9/2025). (Papuabaratnews.id/Sam Sirken)
banner 120x600

Papuabratnews.id, Manokwari – Di tengah riuh lalu-lalang pengunjung Manokwari City Mall, sebuah panggung sederhana namun penuh imajinasi berdiri tegak. Latar LED raksasa menampilkan siluet pepohonan, burung kasuari, dan bentang alam tropis khas Papua Barat. Di sisi kiri-kanan, pohon-pohon buatan dengan dedaunan hijau berdiri bagai hutan mini. Seekor kasuari dalam wujud gambar ikut hadir, berdiri gagah seolah menjaga tanah miliknya sendiri.

Lengkap dengan kursi-kursi putih yang menunggu ditingkahi kata-kata, panggung itu menjelma menjadi “tanah kasuari”—hutan tempat burung besar Papua itu hidup, mencari makan, dan berlari bebas. Pada Selasa (16/9/2025) sore, di sanalah sastra menggema dan mendengung, menghadirkan semesta imajinasi ke jantung kota Manokwari.

banner 325x300

Acara dibuka dengan musikalisasi puisi berjudul Hujan Merah Muda. Penulisnya, Merry Christine Rumainum, menyanyikannya sendiri dengan iringan gitar akustik. Dalam bait-baitnya, hujan digambarkan sebagai anak-anak langit yang lahir dari rahim semesta, sementara sang penyair mengaku lahir dari rasa kagum, memuja hujan melalui aksara.

Lewat puisi ini, Merry seolah ingin menyampaikan bahwa hujan bukan sekadar fenomena alam, melainkan ruang perjumpaan dengan kerinduan, ketidakberdayaan, dan angan-angan yang tak kunjung padam. Hujan Merah Muda menjadi metafora tentang cinta dan rindu yang lembut, hadir setenang gerimis, namun meninggalkan jejak dalam hati.

Membaca Kegoyahan di Tanah Sendiri

Diskusi kemudian dibuka dengan memperkenalkan buku Dengung Tanah Goyah karya penyair Iyut Fitra. Buku itu menjadi pintu masuk percakapan, membentangkan dunia puisi yang bicara tentang tanah, kegelisahan sosial, dan pencarian makna di tengah perubahan.

Eva Yenita Syam (tengah) dan Marsten L. Tarigan (kanan), dua narasumber yang menjadi pemantik diskusi buku Dengung Tanah Goyah karya penyair Iyut Fitra. (Papuabaratnews.id/Sam Sirken)

Dua narasumber dihadirkan. Eva Yenita Syam, peneliti sastra dan tradisi lisan di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, mengajak peserta membaca puisi Iyut Fitra sebagai “catatan kegoyahan”. Menurutnya, Dengung Tanah Goyah bukan sekadar menghadirkan kampung atau tanah kelokalan, melainkan potret hidup manusia yang dipenuhi ketakutan, kecemasan, penerimaan, kesabaran, dan kesadaran.

Dengung di sini bukan teriakan atau jerit, bukan pula isak tangis, melainkan gumam yang berisik di telinga kita. Tanah goyah bukan hanya kampung kuyut, melainkan tanah tempat kita berpijak, tempat hidup yang senantiasa goyah. Iyut Fitra dengan kearifan lokalnya menyampaikan kegamangan, ketakutan, kecemasan, kepasrahan, dan kesadaran lewat puisinya,” ujar Eva.

Ia menekankan bahwa pengetahuan tradisional yang hadir lewat pepatah-petitih di dalam puisi bukan tanpa maksud. “Makna yang muncul sering kali mengejutkan, memilukan, bahkan memprihatinkan,” tambahnya.

Sementara itu, Marsten L. Tarigan, akademisi dari Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Papua, menyoroti Dengung Tanah Goyah sebagai potret dualisme antara diri dan dunia. Baginya, puisi Iyut Fitra memperlihatkan bagaimana manusia sebagai subjek yang terus mencari makna berhadapan dengan dunia yang bergerak dengan logika dan ritmenya sendiri.

“Puisi ini menampilkan jurang yang tak pernah sepenuhnya tertutup antara diri dan realitas. Diri ingin menambatkan makna melalui ingatan, cinta, dan harapan, tetapi dunia kerap menanggalkan tanda-tanda itu. Justru di dalam jurang itulah lahir kesadaran eksistensial kita—rapuh sekaligus gigih mencari arti,” ujarnya.

Menurut Marsten, Dengung Tanah Goyah mengingatkan bahwa puisi bukan hanya fenomena bahasa, tetapi juga kondisi eksistensial manusia. Ia mengajak pembaca merenungkan kembali hakikat keberadaan: manusia hidup tidak semata dari realitas yang keras, melainkan juga dari kerinduan, ingatan, dan harapan yang terus menghidupi.

Diskusi berlangsung hangat. Beberapa mahasiswa menanggapi, guru bertanya, seniman mencatat. Kata-kata yang biasanya hanya tersimpan di dalam buku, kini menjelma dalam percakapan publik.

Kata-Kata Menjadi Tubuh dan Bunyi

Puisi Iyut Fitra dari buku Dengung Tanah Goyah dibawakan di Panggung Sastra Tanah Kasuari. (Papuabaratnews.id/Sam Sirken)

Sastra Tanah Kasuari tidak berhenti di ruang diskusi. Menjelang petang, suasana bergeser. Kata-kata yang tadi dibicarakan menjelma rupa lain: tubuh, musik, tarian, suara. Alih wahana sastra bertajuk Dengung Tanah Kasuari karya Merry Christine Rumainum menjadi panggung kolaborasi.

Komunitas seni Manokwari tampil bergantian. Avanza Dancer FASBuD Unipa memadukan gerak dengan irama modern. Rumah Berbagi FKIP Unipa dan POBACAS SAPASE menghadirkan drama anak serta pembacaan puisi teatrikal. Sanggar Takitakum menampilkan monolog getir, sementara Escopato menutup dengan dentuman hip-hop yang membuat penonton ikut mengangguk mengikuti beat.

Pada momen ini, sastra tidak lagi sekadar puisi di atas kertas. Ia menjelma bunyi, tubuh, bahkan hentakan kaki.

Merajut Ruang Perjumpaan

Sastra Tanah Kasuari 2025 memperlihatkan bahwa sastra mampu menembus batas. Dari teks yang dibaca, ia menjadi diskusi. Dari diskusi, ia menjelma tarian, teater, musik, dan monolog. Semua itu terjadi di satu panggung. Lebih dari sekadar pertunjukan, kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan. Pelajar, mahasiswa, dosen, sastrawan, dan seniman duduk bersama, percaya bahwa kata-kata punya daya menyatukan.

“Bagi kami, ini bukan hanya soal acara, tetapi tentang membangun ruang bersama. Sastra bisa jadi titik temu, tempat orang berbagi cerita, keresahan, dan harapan. Kami ingin kegiatan ini terus hidup, menjadi rumah bagi siapa saja yang percaya pada kekuatan kata,” kata Merry Christine Rumainum, Ketua Sastra Papua Senja.

Peluncuran buku antologi puisi Festival Perasaan Pelaminan Aksara di Panggung Sasstra Tanah Kasuari. (Papuabaratnews.id/Sam Sirken)

Acara mencapai puncak ketika tepuk tangan panjang menggema. Namun suasana tak serta-merta bubar. Peserta masih bertahan, berbincang di antara kursi dan sudut panggung. Ada yang mendiskusikan puisi Iyut Fitra, ada yang mengomentari tarian Avanza Dancer, sementara sebagian lain hanya tersenyum puas—merasa telah ikut menjadi bagian dari “dengung” sastra sore itu.

Sastra Tanah Kasuari 2025 memberi pesan sederhana: sastra bukan hanya milik buku atau kalangan tertentu. Sastra adalah milik semua, dan ia akan terus hidup sejauh ada orang yang bersedia mendengarnya—seperti sore itu, di Tanah Kasuari. (pbn)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *