banner 468x60 *** banner 468x60 ***

Celios Sebut Ada Kejanggalan soal Pengumuman Pertumbuhan Ekonomi 5,12 Persen

Konsumen berbelanja kue kering khas lebaran di pasar Jatinegara, Jakarta, Rabu (3/4/2024). Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memperkirakan terjadinya anomali pada aktivitas konsumsi masyarakat di momentum ramadan dan lebaran tahun ini. Hal ini terutama dipicu oleh daya beli masyarakat yang mulai tergerus akibat lonjakan harga pangan sejak akhir 2023. (TEMPO/Tony Hartawan)
banner 120x600

Salah satu kejanggalan terlihat dari pertumbuhan ekonomi kuartal dua yang lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya.

Papuabaratnews.id, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) telah mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,12 persen pada kuartal II-2025 year on year (yoy) sebesar 5,12 persen. Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda berpendapat data ini penuh kejanggalan dan mengundang tanda tanya.

banner 325x300

Salah satu kejanggalan, kata dia, terlihat dari pertumbuhan ekonomi kuartal dua yang lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya, di mana terdapat momen Ramadan dan Lebaran. Sedangkan di tahun-tahun sebelumnya, pertumbuhan kuartal tertinggi selalu terjadi pada masa momen Lebaran.

“Kuartal I-2025 saja hanya tumbuh 4,87 persen, jadi cukup janggal ketika pertumbuhan kuartal II mencapai 5,12 persen,” ujar Nailul dalam keterangan tertulis pada Selasa (5/8/2025).

Kejanggalan kedua adalah data pertumbuhan industri pengolahan. Berdasarkan data BPS, lapangan usaha industri pengolahan tumbuh 5,68 persen secara tahunan dan memiliki andil 1,13 persen dalam pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Sedangkan, data PMI manufaktur Indonesia terkontraksi di bawah 50 poin selama periode April-Juni 2025. “Artinya, perusahaan tidak melakukan ekspansi secara signifikan,” ucap Nailul.

Lagipula, kata dia, kondisi industri manufaktur juga tengah memburuk. Hal ini ditandai salah satunya oleh jumlah tenaga kerja yang kena PHK yang meningkat 32 persen secara tahunan selama periode Januari-Juni.

Kejanggalan yang ketiga, kata Nailul, terlihat dari konsumsi rumah tangga yang hanya tumbuh 4,96 persen. Menurut data BPS, konsumsi rumah tangga menyumbang 54,25 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Konsumsi rumah tangga juga memiliki andil 2,64 persen dari keseluruhan pertumbuhan ekonomi. Padahal, kata Nailul, tidak ada momen yang membuat konsumsi rumah tangga meningkat tajam.

“Ketidaksinkronan antara data pertumbuhan ekonomi dengan leading indikator, membuat saya pribadi tidak percaya terhadap data yang dirilis oleh BPS,” ujar Nailul.

Oleh sebab itu, ia meminta BPS menjelaskan secara detail metodologi yang digunakan, termasuk indeks untuk menarik angka nilai tambah bruto sektoral serta pengeluaran.

Sebelumnya, Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh. Edy Mahmud mengatakan perekonomian Indonesia berdasarkan besaran PDB atas dasar harga berlaku kuartal II-2025 mencapai Rp 5.947 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 3.396,3 triliun.

“Sehinga pertumbuhan ekonomi Indoensia triwulan II-2025 bila dibandingkan triwulan II-2024 atau secara year on year tumbuh sebesar 5,12 persen,” ucap Edy dalam konferensi pers pada Selasa (5/8/2025).

Dari sisi pengeluaran, Edy mengatakan seluruh komponen mengalami pertumbuhan positif kecuali konsumsi pemerintah yang terkontraksi 0,33 persen. “Komponen pengeluargan yang memberikan konribusi terbesar terhadap PDB adalah konsumsi rumah tangga dengan kontribusi sebesar 54,25 persen. Komponen ini tumbuh 4,97 persen. Hal ini mengindikasikan masih kuatnya permintaan domestik,” katanya. (tem)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *