Papuabaratnews.id, Manokwari – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Menengah Teologi Kristen (SMTK) dan Sekolah Pendidikan Guru Jemaat (SPGJ) Laharoi Anday Manokwari berlangsung penuh semangat dan makna,
Sebanyak 41 peserta didik baru dari 12 wilayah kerja Sinode GKI di Tanah Papua terlibat aktif dalam kegiatan yang berlangsung selama tiga hari itu, Senin-Rabu (14–16 Juli 2025).
Bagi mereka, tiga hari pertama bukan hanya tentang mengenal lingkungan baru, tetapi tentang menemukan jati diri sebagai calon pemimpin rohani dan pelayan jemaat di masa depan.
“Kami tidak hanya memperkenalkan tata tertib dan budaya sekolah, tapi juga membekali mereka dengan nilai-nilai spiritualitas dan kepemimpinan Kristen,” ujar Direktur SMTK/SPGJ Laharoi Anday, Pendeta Jeremias Andrian Mofu, S.Si.Teo., M.Mis.
Materi-materi yang disampaikan mencakup pengenalan profil sekolah, panggilan Kristus, etika dan disiplin, bahaya narkoba dan seks bebas, serta pola hidup sehat dan bertanggung jawab. Tidak ketinggalan, peserta didik baru juga belajar mengatur waktu, mengenal mars sekolah, hingga sesi penting tentang doa, disiplin, dan dedikasi.
“Setelah MPLS, mereka bukan lagi tamu. Mereka telah menjadi bagian dari keluarga besar SMTK/SPGJ Laharoi. Materi yang diberikan membantu mereka menata diri menjadi pribadi cerdas, berdisiplin, dan berkarakter Kristus,” ungkap Pdt. Jeremias.

Kegiatan ini dikemas tidak hanya dalam ceramah, tetapi juga diskusi kelompok, permainan edukatif, dan ibadah pembukaan serta penutupan. Semua ini dirancang untuk mempererat relasi antarsiswa, guru, dan staf sekolah.
Suasana kekeluargaan pun terasa sejak hari pertama. “Kami ingin mereka merasa diterima dan dipanggil, bukan sekadar belajar tapi juga bertumbuh dalam iman dan karakter,” tambahnya.
Sebagai sekolah berbasis asrama (boarding school), SMTK/SPGJ Laharoi Anday berkomitmen mencetak lulusan yang bukan hanya kuat secara akademik, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial. Program pendidikan yang ditawarkan mencakup jalur sekolah teologi menengah (3 tahun) dan pendidikan guru jemaat (4 tahun), dengan sistem yang sudah mengacu pada standar pendidikan nasional.
Dalam jangka panjang, SMTK/SPGJ akan ditingkatkan menjadi Akademi Teologi Laharoi Anday, bekerja sama dengan Universitas Negeri Papua (UNIPA) Manokwari, Universitas Cendrawasih Jayapura, dan STFT Gki Izaak Samuel Kijne Jayapura. Program D3 Vokasi Guru Jemaat juga tengah dipersiapkan. Menurut Pdt Jeremias, hal ini sudah mendapat restu dari Badan Pekerja Harian Sinode GKI.
“Kami ingin mencetak generasi yang memiliki life skill, integritas, dan siap melayani di klasis-klasis GKI, baik di pesisir maupun pedalaman Papua,” tegas Pdt. Jeremias.

Lebih dari sekadar program pengenalan, MPLS menjadi titik awal perjalanan transformasi hidup para peserta didik baru. Di sinilah benih panggilan itu mulai tumbuh, di Bumi Pendidikan Kristen Arfak Doreri — sebutan yang diberikan Pendeta Jeremias untuk sekolah ini.
“Harapan kami, setelah MPLS, para siswa merasa bahwa mereka telah masuk dalam sebuah keluarga rohani, tempat mereka bertumbuh bersama dan diperlengkapi untuk menjadi terang dan garam di dunia,” pungkasnya. (sem)


***
***





