Papuabaratnews.id, Manokwari – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Provinsi Papua Barat mengalami inflasi sebesar 0,55 persen pada April 2025 secara bulanan atau month-to-month (mtm). Inflasi ini menunjukkan adanya kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 106,37 pada Maret 2025 menjadi 106,95 pada April 2025.
Kepala BPS Papua Barat, Merry, menyampaikan hal tersebut saat mengumumkan Berita Resmi Statistik (BRS) Edisi Mei 2025 di Manokwari, Jumat (2/5/2025).
Ia menjelaskan bahwa inflasi bulanan ini terutama disebabkan oleh kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 0,79 persen, dengan andil inflasi sebesar 0,28 persen.
“Komoditas penyumbang utama inflasi pada April 2025 di Papua Barat antara lain tomat, bawang merah, bawang putih, ikan asap, ikan layang/ikan benggol, dan cabai rawit, ikan tuna dan mujair, serta telur ayam ras dan beras,” ujar Merry.
Sementara komoditas yang dominan memberikan andil atau sumbangan inflasi bulanan pada April 2025, antara lain: tarif listrik, tomat, emas perhiasan, bawang merah, bawang putih.
“Sedangkan komoditas yang memberikan andil deflasi bulanan, antara lain: ikan kakap merah, angkutan udara, bensin, tarif pulsa ponsel dan bayam,” ucapnya.
Secara tahunan atau year-on-year (yoy), Papua Barat mengalami inflasi sebesar 0,15 persen, lebih rendah dibanding inflasi nasional yang tercatat sebesar 1,17 persen. IHK Papua Barat naik dari 106,79 pada April 2024 menjadi 106,95 pada April 2025.
Ia membeberkan, penyumbang inflasi tahunan adalah kelompok pendidikan sebesar 0,29 persen, perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,26 persen, serta penyediaan makanan dan minuman/restoran yang mencatat inflasi 0,14 persen.
Sementara itu, kelompok transportasi mengalami deflasi sebesar 2,20 persen secara tahunan, dengan andil deflasi sebesar 0,27 persen. Penurunan harga terutama terjadi pada tarif angkutan udara sebesar 0,17 persen.
Selain itu, Merry menyampaikan, terdapat komoditas yang masih memberikan andil deflasi pada April 2025, di antaranya beras dengan andil deflasi 0,21 persen, ikar ekor kuning dengan andil 0,17 persen, ikan cakalang dengan andil 0,13 persen, dan bensin dengan andil 0,12 persen.
Secara tahun kalender atau year-to-date (ytd), inflasi Papua Barat tercatat sebesar 0,92 persen dari Januari hingga April 2025.
Merry menekankan pentingnya pengendalian harga pangan dan ketersediaan pasokan untuk menjaga inflasi tetap terkendali.
“Koordinasi antarinstansi untuk menjaga ketersediaan barang dan kelancaran distribusi sangat penting agar inflasi tetap dalam sasaran,” pungkasnya. (sem/pbn)


***
***





