Kekurangan air menekan kehidupan warga dan hasil pertanian, sementara rumah tangga berpenghasilan rendah memiliki ruang belanja yang terbatas
Papuabaratnews.id, Manokwari –- Kemarau panjang tidak hanya membuat udara Manokwari terasa lebih panas. Berkurangnya ketersediaan air dan menurunnya hasil pertanian turut menambah beban ekonomi masyarakat, terutama keluarga berpenghasilan rendah.
Dampak kemarau dirasakan warga di sejumlah wilayah Kabupaten Manokwari. Sumur mulai kekurangan air, tanaman mengering, dan sebagian warga harus mencari sumber air alternatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi lebih berat dialami warga hunian sementara di Distrik Manokwari Timur. Mereka dilaporkan telah mengalami kesulitan air selama empat bulan. Kodim 1801/Manokwari kemudian mendistribusikan air dengan memanfaatkan satu unit mobil pemadam kebakaran bantuan Kementerian Pertahanan.
Perwira Seksi Logistik Kodim 1801/Manokwari, Mayor Infanteri D. Mendrofa, mengatakan air yang disalurkan kepada warga hunian sementara hanya dianjurkan untuk mandi dan mencuci.
“Warga sudah kesulitan selama empat bulan. Jadi, kami bantu sediakan air bersih,” kata Mendrofa di Manokwari, Senin (24/8/2026) seperti dilansir Antara.
Penyaluran air juga menyasar wilayah lain yang terdampak kekeringan. Di Susweni, Distrik Manokwari Timur, sebagian warga bahkan harus mengambil air dari sungai menggunakan ember. Kodim memperoleh informasi tersebut melalui laporan Bintara Pembina Desa atau Babinsa.
Kesulitan memperoleh air memperlihatkan bahwa kemarau tidak sekadar persoalan cuaca. Ketika sumber air di sekitar permukiman berkurang, warga harus mengeluarkan tenaga, waktu, dan biaya tambahan untuk memenuhi kebutuhan minum, memasak, mandi, mencuci, serta sanitasi.
Wakil Bupati Manokwari, Mugiyono, sebelumnya mengatakan kondisi kering mulai terlihat di sejumlah wilayah. Tanah menjadi kering dan berdebu, vegetasi hijau berkurang, sedangkan debit sejumlah sumber air masyarakat mulai menurun.
Salah satu wilayah yang mengalami kondisi tersebut adalah Suwafen Tengah. Sejumlah sumur warga mulai kekurangan pasokan air akibat kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga Oktober 2026.
“Di beberapa tempat, sumur masyarakat mulai kekurangan air,” ujar Mugiyono di Manokwari, Selasa (11/8/2026).
Berkurangnya air juga berdampak terhadap kegiatan pertanian. Petani yang mengandalkan hasil kebun sebagai sumber pendapatan menghadapi risiko penurunan produksi ketika tanaman tidak memperoleh cukup air.
Marthafince Mandacan, petani asal Kampung Warbefor, mengatakan sebagian tanaman, terutama sayuran hijau, tidak dapat tumbuh dengan baik akibat cuaca panas dan kekurangan air.
Menurunnya hasil panen kemudian berpengaruh terhadap harga sayuran di pasar. Menurut Marthafince, harga kangkung yang sebelumnya sekitar Rp5.000 per ikat dapat meningkat menjadi Rp10.000 karena hasil panen petani semakin sedikit.
“Sayur kangkung yang biasanya dijual Rp5.000 per ikat, sekarang harganya bisa mencapai Rp10.000,” katanya.
Kenaikan harga bahan pangan menjadi beban tambahan bagi konsumen. Pada saat bersamaan, petani belum tentu memperoleh keuntungan lebih besar karena jumlah hasil panen yang dapat dijual justru menurun.
Rumah Tangga Berpenghasilan Rendah Paling Rentan
Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik Kabupaten Manokwari menunjukkan rata-rata pengeluaran penduduk Manokwari mencapai Rp1.911.745 per kapita dalam sebulan.
Namun, rata-rata pengeluaran kelompok 40 persen penduduk terbawah hanya Rp969.723 per kapita per bulan. Jumlah tersebut terdiri atas pengeluaran makanan sebesar Rp560.097 dan kebutuhan bukan makanan Rp409.626.
Sebagai perbandingan, rata-rata pengeluaran kelompok 20 persen teratas mencapai Rp4.071.318 per kapita per bulan. Kesenjangan itu memperlihatkan bahwa kelompok berpenghasilan rendah memiliki ruang keuangan yang jauh lebih sempit ketika harus menghadapi kenaikan harga pangan atau pengeluaran tambahan untuk memperoleh air.
Susenas 2025 juga memperlihatkan pola akses air rumah tangga di Kabupaten Manokwari. Sebanyak 53,83 persen rumah tangga menggunakan air kemasan bermerek, air isi ulang, atau leding sebagai sumber utama air minum.
Sebanyak 38,99 persen rumah tangga menggunakan sumur bor atau pompa, sumur terlindung, mata air terlindung, maupun air hujan. Sementara 7,18 persen lainnya masih bergantung pada sumber seperti sumur dan mata air tidak terlindung, air permukaan, atau sumber lainnya.
Untuk kebutuhan mandi dan mencuci, 80,60 persen rumah tangga mengandalkan sumur bor atau pompa, sumur terlindung, mata air terlindung, dan air hujan. Sebanyak 13,73 persen menggunakan sumber lain yang mencakup sumur tidak terlindung, mata air tidak terlindung, serta air permukaan.
Ketergantungan terhadap sumur, mata air, air hujan, dan air permukaan membuat sebagian rumah tangga rentan ketika kemarau berlangsung panjang dan debit sumber air terus berkurang.
Pada tingkat Provinsi Papua Barat, BPS mencatat 106,90 ribu orang atau 20,66 persen penduduk berada di bawah garis kemiskinan pada Maret 2025. Jumlah penduduk miskin di perdesaan mencapai 91,95 ribu orang, jauh lebih banyak dibandingkan wilayah perkotaan sebanyak 14,94 ribu orang.
Garis kemiskinan Papua Barat pada periode tersebut sebesar Rp831.001 per kapita per bulan. Dari jumlah itu, kebutuhan makanan mengambil porsi 74,49 persen. Data tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga pangan berpotensi memberikan tekanan besar terhadap anggaran rumah tangga miskin.
Bukan Gelombang Panas
Prakirawan BMKG Manokwari, Wendel, menjelaskan suhu panas yang dirasakan masyarakat Papua Barat bukan gelombang panas seperti yang terjadi di sejumlah negara. Kondisi tersebut dipengaruhi karakteristik iklim tropis Indonesia dan fenomena El Niño.
Meskipun demikian, masyarakat tetap perlu mewaspadai dampaknya. Terik matahari dan berkurangnya curah hujan dapat menurunkan ketersediaan air, mengganggu pertanian, meningkatkan risiko kebakaran, serta memengaruhi kesehatan dan produktivitas warga.
Bagi rumah tangga yang memiliki pendapatan terbatas, setiap pengeluaran tambahan dapat mempersempit kemampuan memenuhi kebutuhan lain. Uang yang digunakan untuk membeli air, membayar ongkos pengangkutan, atau menutupi kenaikan harga pangan harus diambil dari anggaran rumah tangga yang sebelumnya sudah terbatas.
Kemarau pada akhirnya bukan hanya persoalan rasa panas atau ketidaknyamanan. Di Manokwari, kondisi tersebut telah menyentuh sumber air, pertanian, harga pangan, dan daya tahan ekonomi keluarga.
Distribusi air oleh Kodim 1801/Manokwari membantu memenuhi kebutuhan mendesak warga. Namun, penanganan jangka panjang tetap diperlukan agar masyarakat tidak terus menghadapi kesulitan yang sama setiap kali musim kemarau datang. Pemerintah daerah perlu memperkuat sumber air baku, jaringan distribusi, fasilitas penampungan, dan perlindungan terhadap mata air yang selama ini menjadi tumpuan masyarakat. (pbn)


***
***





