Berita  

Gubernur NTT: Lima Orang Dilaporkan Tewas akibat Gempa Magnitudo 7,7 di Flores

Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena menyampaikan keterangan terkait gempa bumi dengan magnitudo 7,7 dalam konferensi pers di Markas Polda NTT, Kota Kupang, Sabtu (15/8/2026). (Foto: KOMPAS/Fransiskus Pati Herin)
banner 120x600

Jumlah korban tewas akibat gempa bumi di Pulau Flores, NTT, dilaporkan bertambah menjadi lima orang. Pengumpulan data dampak gempa masih terus dilakukan.

Papuabaratnews.id, Kupang –- Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena menyatakan, sedikitnya lima orang tewas akibat gempa bumi dengan magnitudo 7,7 di Pulau Flores, NTT. Petugas masih terus mengumpulkan dan memperbarui data korban dan kerusakan akibat gempa bumi tersebut.

banner 325x300

Informasi soal lima korban tewas itu disampaikan Melkiades yang akrab disapa Melki dalam konferensi pers di Markas Kepolisian Daerah NTT, Kota Kupang, Sabtu (15/8/2026).

”Informasi yang saya terima, korban yang meninggal lima orang. Dua orang dari Kabupaten Sikka dan tiga orang dari Kabupaten Manggarai,” kata Melki.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa dengan magnitudo (M) 7,7 itu terjadi pada Sabtu pukul 04.58 WIB. Pusat gempa berada pada koordinat 8,41 derajat Lintang Selatan dan 121,39 derajat Bujur Timur dengan kedalaman 15 kilometer.

Pusat gempa berada di laut dengan jarak sekitar 30 kilometer arah timur laut Kabupaten Nagekeo, NTT. Nagekeo merupakan salah satu kabupaten di Pulau Flores. Sejumlah kabupaten/kota di Pulau Flores pun terkena dampak gempa tersebut.

Sebelumnya, Kantor SAR Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, melaporkan adanya seorang warga yang tewas, dua orang terluka, dan tiga orang tertimbun.

”Untuk sementara, satu korban tewas itu di Maumere dan tiga korban tertimbun itu di Kabupaten Manggarai,” kata Kepala Kantor SAR Maumere Fathur Rahman lewat sambungan telepon. Selain itu, dua warga juga dilaporkan mengalami luka-luka di Maumere yang merupakan ibu kota Kabupaten Sikka.

Menurut laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga Sabtu pukul 08.00 WIB, satu orang meninggal dan empat orang mengalami luka-luka akibat gempa ini.

Sebuah bangunan tampak rusak setelah gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (15/8/2026). (Foto: AFP/Selo)

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, berdasarkan hasil pemutakhiran dan validasi data di lapangan hingga Sabtu pukul 08.00 WIB, tercatat satu orang meninggal dan empat orang mengalami luka-luka.

”Korban meninggal merupakan warga Kabupaten Sikka, sementara korban luka tercatat di Kabupaten Sikka dan Kabupaten Nagekeo,” kata Berton dalam keterangan tertulis.

Sesudah terjadi gempa utama, BMKG mencatat beberapa aktivitas gempa susulan. Gempa susulan dengan kekuatan M 6,2 terjadi pada pukul 05.13.53 WIB, kemudian M 6,2 pada pukul 05.28.40 WIB, dan M 5,6 pada pukul 05.37.19 WIB. Sejumlah gempa susulan lainnya juga tercatat, termasuk gempa M 5,5.

”Berdasarkan informasi sementara, gempa-gempa susulan tersebut tidak berpotensi tsunami,” ujar Berton.

Berton menambahkan, BNPB masih memutakhirkan data terkait dengan dampak gempa bumi tersebut. Pendataan itu mencakup korban jiwa, korban luka-luka, kerusakan bangunan, ataupun dampak lainnya. Informasi mengenai perkembangan korban dan kerusakan akan disampaikan berdasarkan hasil verifikasi petugas di lapangan.

”BNPB mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di wilayah pesisir, untuk tetap tenang dan mengikuti arahan resmi dari pemerintah daerah serta informasi peringatan dini dari BMKG. Masyarakat juga diminta menjauhi bangunan yang mengalami kerusakan atau retak akibat gempa karena berpotensi membahayakan keselamatan,” papar Berton. (pbn)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *