Penambahan petugas inseminator ditargetkan memperluas layanan IB hingga distrik terpencil sekaligus meningkatkan kualitas genetik dan nilai jual ternak.
Papuabaratnews.id, Aimas –- Pemerintah Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, memperkuat program inseminasi buatan (IB) untuk meningkatkan kualitas genetik dan potensi ekonomi sektor peternakan. Salah satu langkah yang disiapkan adalah menambah petugas inseminator agar pelayanan dapat menjangkau peternak hingga wilayah yang sulit diakses.
Kepala Seksi Perbibitan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Sorong Agustina Mote mengatakan, penambahan petugas menjadi kebutuhan mendesak karena cakupan wilayah pelayanan cukup luas.
Kabupaten Sorong memiliki 32 distrik dengan 253 desa/kelurahan. Kondisi geografis tersebut membuat pelayanan peternakan membutuhkan petugas yang tersebar di berbagai wilayah.
“Saat ini jumlah petugas inseminator masih sangat terbatas. Dari 10 petugas yang sebelumnya tersedia, seluruhnya telah memasuki masa pensiun, bahkan sebagian telah meninggal dunia sehingga kini tersisa tiga orang,” kata Agustina di Aimas, Kamis (13/8/2026), seperti dilansir Antara.
Menurut dia, keterbatasan tersebut mendorong Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Sorong menjadikan penambahan petugas inseminator sebagai salah satu fokus dalam aksi perubahan.
Dengan penambahan petugas di sejumlah distrik, peternak diharapkan tidak perlu membawa ternaknya ke wilayah lain untuk mendapatkan layanan IB, baik untuk sapi maupun kambing.
“Dengan bertambahnya petugas inseminator, daerah-daerah yang jauh dan sulit dijangkau bisa dilayani. Kami juga bisa mendata berapa hasil IB yang ada di sana,” ujarnya.
Dorong Kualitas dan Nilai Jual Ternak
Agustina menjelaskan, program IB tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan kualitas ternak, tetapi juga memiliki potensi ekonomi bagi daerah. Program tersebut telah menjadi salah satu sumber pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Sorong.
“Program IB ini sudah masuk dalam PAD. Jadi ini merupakan salah satu yang bisa membantu PAD dalam pemerintahan Kabupaten Sorong,” katanya.
Menurut dia, Kabupaten Sorong memiliki potensi peternakan yang cukup besar. Bahkan, kebutuhan sapi untuk sejumlah program bantuan di wilayah Papua Barat Daya sebelumnya turut dipenuhi dari ternak yang berasal dari Kabupaten Sorong.
Karena itu, penguatan layanan IB dinilai dapat menjadi bagian dari upaya mengembangkan potensi peternakan sekaligus meningkatkan kualitas ternak yang dihasilkan masyarakat.
“Program IB ini bisa menghasilkan sapi yang lebih berkualitas, lebih bermutu dengan nilai jual yang sangat tinggi,” ujarnya.
Siapkan Petugas Baru
Untuk memperluas cakupan layanan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Sorong telah melakukan sejumlah tahapan. Proses tersebut meliputi pembahasan aksi perubahan bersama mentor, pembentukan tim kerja, penyusunan standar operasional prosedur (SOP), serta koordinasi dengan petugas inseminator senior.
Dari koordinasi tersebut, kata Agustina, diperoleh sejumlah nama pegawai baru yang dinilai memiliki kemampuan dan bersedia disiapkan sebagai petugas inseminator.
Selanjutnya, tim berkoordinasi dengan Balai Pembibitan dan Inseminasi Buatan (BPIB) serta penyuluh peternakan di Kabupaten Sorong. Koordinasi dilakukan untuk memperoleh dukungan dalam penempatan petugas baru di berbagai distrik, terutama wilayah yang jauh dari pusat pelayanan.
Setelah melalui tahapan koordinasi dan sosialisasi, program tersebut kemudian diluncurkan bersama pemerintah daerah, termasuk Bupati dan Wakil Bupati Sorong.
Agustina berharap dukungan pemerintah daerah terhadap penambahan dan peningkatan kapasitas petugas inseminator dapat dilakukan secara berkelanjutan.
Menurut dia, keberlanjutan program penting agar layanan IB tidak berhenti pada tahap awal, tetapi terus berkembang dan memberikan manfaat bagi peternak serta perekonomian daerah.
“Ini betul-betul akan mendatangkan PAD yang besar bagi kami. Untuk masyarakat, program IB ini bisa menghasilkan sapi yang lebih berkualitas, lebih bermutu dengan nilai jual yang sangat tinggi,” katanya. (pbn)







