Papuabaratnews.id, Manokwari – Bawang merah menyumbang inflasi tahunan di Papua Barat pada September 2025 sebesar 0,31 persen. Kendati demikian, secara bulanan, komoditas ini justru mengalami deflasi dengan andil sebesar 0,12 persen. Penurunan harga bawang merah secara bulanan dipengaruhi oleh melimpahnya pasokan dari sentra produksi serta turunnya biaya distribusi.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua Barat, Rabu (1/10/2025), merilis tingkat inflasi tahunan (year on year/y-on-y) pada September 2025 sebesar 1,02 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 108,51. Sementara inflasi bulanan (month to month/m-to-m) tercatat 0,97 persen.
Kepala BPS Papua Barat, Merry mengatakan, Komoditas pangan yang dominan memberikan andil terhadap inflasi tahunan antara lain bawang merah 0,31 persen, tomat 0,30 persen, emas perhiasan 0,23 persen, beras 0,17 persen, serta sewa rumah 0,14 persen.
“Sedangkan penyumbang inflasi bulanan terbesar berasal dari ikan cakalang dan ikan tuna masing-masing sebesar 0,26 persen dan 0,19 persen. Khusus untuk beras, inflasi bulanan tercatat sebesar 0,04 persen,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa harga bawang merah sangat sensitif terhadap ketersediaan pasokan dan biaya logistik antar daerah.
“Secara tahunan, bawang merah masih menjadi penyumbang utama inflasi, tetapi pada September 2025 terjadi koreksi harga di pasar lokal seiring panen dari sentra produksi dan membaiknya distribusi. Meski begitu, disparitas harga antar pasar di Papua Barat masih cukup tinggi,” ujarnya.
Di pasaran lokal Manokwari, harga bawang merah menunjukkan fluktuasi yang cukup tajam. Berdasarkan pantauan, harga bawang merah di Pasar Wosi dan Pasar Sanggeng sempat menembus Rp 120.000 per kilogram ketika pasokan terganggu. Namun pada periode akhir September 2025, sejumlah pedagang menyebut harga berada di kisaran Rp 70.000 per kg, bahkan di beberapa titik terpantau turun hingga sekitar Rp 45.000 – Rp 50.000 per kg. Adapun data Panel Harga Pangan (PIHPS) mencatat rata-rata harga bawang merah di pasar modern Papua Barat pada periode yang sama mencapai Rp 62.650 per kg.
Selain bawang merah, komoditas lain yang turut memberikan andil deflasi bulanan adalah cabai rawit 0,05 persen, ikan selar/oci 0,04 persen, daging ayam ras 0,04 persen, dan bunga pepaya 0,03 persen.
Dengan capaian tersebut, BPS Papua Barat menilai laju inflasi September 2025 masih terkendali. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan, terutama pada kelompok pangan bergejolak yang rawan terdampak oleh gangguan pasokan maupun distribusi. (pbn)


***
***





