banner 468x60 *** banner 468x60 ***

Berita  

Harapan Hidup dan Melek Huruf setelah 80 Tahun Merdeka

Anak-anak SD di Distrik Anggi, Kabupaten Pegunungan Arfak, Papua Barat mengikuti lomba 17 Agustus di Lapangan Anggi setelah upacara pengibaran bendera merah putih, Jumat (17/8/2018) siang. Lomba 17 Agustus di Lapangan Anggi merupakan bagian dari kegiatan Bhakti Papua Ekspedisi Bumi Cenderawasih Mapala UI. (KOMPAS.com/Wahyu Adityo Prodjo)
banner 120x600

Papuabaratnews.id, Jakarta –   Indonesia menginjak usia ke-80 tahun. Pada tahun ini, angka harapan hidup penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 71,4 tahun.

Berdasarkan data UN Population, usia harapan hidup penduduk Indonesia pada 1950—5 tahun setelah merdeka, adalah 40,2 tahun. Maka, bukan tidak mungkin angka pada 1945 lebih rendah lagi. Dengan kata lain, usia penduduk Indonesia saat itu relatif lebih pendek dibanding saat ini.

banner 325x300

Untuk diketahui angka harapan hidup adalah perkiraan rata-rata jumlah tahun seseorang dapat hidup sejak lahir. Angka yang tinggi mencerminkan kemajuan kesehatan dan kesejahteraan populasi suatu wilayah.

Menurut peneliti biostatistik dan surveilans penyakit Eijkman-Oxford Clinical Research Unit (EOCRU) Iqbal Elyazar, kenaikan usia harapan hidup didorong oleh kemajuan peradaban manusia. Salah satunya adalah semakin berkembangnya teknologi yang memungkinkan produksi massal vaksin dan obat-obatan. Alhasil ketersediaannya lebih banyak dan harganya lebih terjangkau.

Namun, dibanding negara-negara anggota G20 lainnya, angka harapan hidup penduduk Indonesia hanya lebih tinggi dibanding Afrika Selatan (66,5 tahun). Kondisi ini menggambarkan infrastruktur kesehatan Indonesia tertinggal dibanding negara-negara seperti Jepang, Cina, Korea Selatan, dan Australia.

 

Selain usia yang semakin panjang, kemajuan lain yang dicatatkan Indonesia setelah merdeka 80 tahun lalu adalah kian banyaknya populasi yang melek huruf. Pada 1945, angka buta huruf di Indonesia sangat tinggi, yakni 90 persen. Dari 61 juta  penduduk, hanya 10 persen atau 6 juta orang yang dapat membaca dan menulis.

Pada 2024, Badan Pusat Statistik mencatat tingkat melek aksara penduduk Indonesia sudah mencapai 96,7 persen. Namun, masih ada 3,3 persen penduduk atau sekitar 8,9 juta penduduk Indonesia yang belum mampu membaca dan menulis. (tem)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *