Papuabaratnews.id, Manokwari – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Provinsi Papua Barat pada Juli 2025 sebesar 1,24 persen secara bulanan (month-to-month/m-to-m), meningkat dibandingkan Juni 2025 yang tercatat 0,58 persen.
“Inflasi sebesar 1,24 persen secara bulanan atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 107,22 pada Juni 2025 menjadi 108,55 pada Juli 2025,” ujar Kepala BPS Provinsi Papua Barat, Merry, dalam konferensi pers rilis BPS, Jumat (1/8/2025).
Berdasarkan kelompok pengeluaran, penyumbang inflasi bulanan terbesar berasal dari kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau yang mengalami inflasi 3,94 persen dengan andil 1,37 persen. Disusul kelompok Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran (1,16 persen; andil 0,07 persen).
“Komoditas penyumbang utama inflasi pada kelompok ini adalah Tomat, Ikan Cakalang, dan Bawang Merah. Khusus tomat memberikan andil inflasi bulanan terbesar yaitu 0,62 persen,” sebut Merry.
Selain itu, ada juga sumbangan dari kangkung, cabai rawit, ikan kakap merah, bawang putih, beras, apel, dan kopi bubuk.
Inflasi Juli 2025 juga dipicu kenaikan harga bensin, mobil, serta angkutan laut, solar, dan sepeda motor.
Sementara itu, komoditas yang memberikan andil deflasi pada Juli 2025 antara lain tarif angkutan udara (0,30 persen), ikan ekor kuning/ikan lolosi (0,07 persen), bayam (0,06 persen), sawi hijau (0,04 persen), dan ikan tuna (0,04 persen).
Berdasarkan data historis, inflasi bulanan Juli 2025 merupakan yang tertinggi sejak Januari 2025 dan berbanding terbalik dengan deflasi yang terjadi pada Maret dan Mei 2025.
BPS juga melaporkan sebaran inflasi bulanan di wilayah Sulampua.
“Inflasi tertinggi di Papua Pegunungan sebesar 1,65 persen, sedangkan deflasi terjadi di Papua sebesar 0,34 persen,” ujar Merry.
Secara tahunan (year-on-year/y-o-y), inflasi Papua Barat tercatat 0,43 persen, atau terjadi kenaikan IHK dari 108,08 pada Juli 2024 menjadi 108,55 pada Juli 2025. Pendorong utama inflasi tahunan adalah kelompok Pendidikan (andil 0,28 persen), Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya (0,24 persen), serta Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran (0,22 persen).
“Kenaikan biaya sekolah semua jenjang pendidikan, menjadi penyumbang utama terjadinya inflasi tahunan di Provinsi Papua Barat pada Juli 2025.,” sebut Merry.
Menurut dia, kenaikan biaya sekolah ini mencerminkan penyesuaian tarif oleh berbagai institusi pendidikan negeri maupun swasta, seiring meningkatnya aktivitas pembelajaran tahun ajaran baru.
Selanjutnya, komoditas penyumbang inflasi tahunan terbesar di antaranya tomat, emas perhiasan, biaya sekolah dasar, sekolah menengah atas, dan bakso siap santap.
“Tomat juga menjadi komoditas penyumbang utama inflasi tahunan sebesar 0,55 persen,” kata Merry.
Adapun komoditas penyumbang deflasi tahunan antara lain tarif angkutan udara, cabai rawit, ikan tuna, dan udang basah. (sem)


***
***





