banner 468x60 *** banner 468x60 ***

Maya Puspa Dewi, Pembawa Cahaya dari Ujung Timur

Maya Puspa Dewi dan anak-anak didiknya di Sekolah Cahaya Anak Papua Kampung Sawinggrai, Raja Ampat, Papua Barat Daya. (Papuabaratnews/Istimewa)
banner 120x600

Di suatu pagi yang tenang, di bawah langit biru Raja Ampat, Maya Puspa Dewi berjalan menuju dermaga kecil di Kampung Sawinggrai. Suara deburan ombak lembut yang menyapa pantai, serta burung-burung camar yang berterbangan di atas lautan, mengiringi langkahnya.

Sejak 2013, perempuan asal Bandung ini telah menjadikan tempat terpencil di ujung timur Indonesia sebagai rumah keduanya. Dengan latar belakang pendidikan pariwisata dan konservasi, Maya datang bukan sekadar untuk menikmati keindahan alam, tetapi untuk membawa perubahan bagi anak-anak Papua yang haus akan pendidikan dan kesempatan.

banner 325x300

Maya pertama kali terpanggil untuk menetap di Sawinggrai ketika bekerja sebagai staf di biro pariwisata lokal. Kegundahan hatinya semakin dalam saat menyelam bersama anak-anak di Arborek dan menyaksikan 12 ekor pari Manta berenang di tengah sampah plastik. “Mereka begitu senang bertemu Manta, tanpa menyadari bahwa lautan ini sedang terancam,” kenangnya.

Sejak saat itu, Maya memutuskan untuk melakukan sesuatu—tidak hanya demi konservasi, tetapi juga demi anak-anak yang akan mewarisi bumi ini​.

Membangun Sekolah dari Mimpi

Tahun 2018 menjadi titik awal bagi Maya dan rekan kerjanya, Yonas, untuk membangun sesuatu yang lebih dari sekadar impian. Bersama-sama, mereka mendirikan Yayasan Cahaya Anak Papua. Sekolah ini awalnya hanya dimaksudkan untuk mengajarkan bahasa Inggris dan konservasi, namun antusiasme anak-anak yang datang setiap hari memaksa Maya berpikir lebih besar. Dengan fasilitas sederhana, sekolah ini memberikan pendidikan gratis bagi anak-anak Sawinggrai dan Kapisawar, hingga akhirnya berkembang menjadi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang setara dengan pendidikan SMP dan SMA.

Di sekolah ini, anak-anak diajak belajar lebih dari sekadar teori. Mereka turun langsung ke lapangan, mengenal dan menjaga alam yang menghidupi mereka. Maya mengajarkan betapa pentingnya menjaga terumbu karang dan mempraktikkan manajemen sampah. “Cara berterima kasih kepada alam adalah dengan menjaga kelestariannya,” ujarnya sambil tersenyum.

Program “Ocean Warriors” yang digagasnya juga melibatkan anak-anak dalam kegiatan rutin membersihkan laut dan pantai, memberi mereka poin yang dapat ditukarkan dengan kesempatan berwisata gratis.

Maya Puspa Dewi dan Yonas bersama anak-anak didiknya di Sekolah Cahaya Anak Papua Kampung Sawinggrai, Raja Ampat, Papua Barat Daya. (Papuabaratnews/Istimewa)

Kisah dalam Cerita dan Tantangan dalam Nyata

Tidak hanya berhenti di sekolah, Maya bersama temannya, Dayu Rifanto, juga menulis buku cerita anak yang mengangkat kisah pahlawan konservasi dari Papua. Buku tersebut mengisahkan perjuangan Edo dan Mira, dua anak Papua yang berupaya menjaga laut dari kerusakan. Maya berharap, buku itu bisa menjadi pengingat bagi generasi muda bahwa masalah lingkungan ada di sekitar mereka dan membutuhkan aksi nyata dari setiap individu untuk mengatasinya.

Meski begitu, jalannya tidak selalu mulus. Membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan dan konservasi sering kali bertentangan dengan kebiasaan lokal. Tantangan terbesarnya adalah meyakinkan para orang tua bahwa profesi sebagai konservasionis laut dapat menjadi masa depan yang menjanjikan bagi anak-anak mereka. “Terkadang saya merasa terlalu berani dan memaksakan mimpi saya,” kata Maya, “tetapi saya percaya bahwa perubahan besar dimulai dari langkah-langkah kecil”​

Impian di Ujung Timur

Maya tengah membimbing salah seorang anak didiknya belajar. (Papuabaratnews/Istimewa)

Kini, memasuki tahun keempat memimpin Yayasan Cahaya Anak Papua, Maya terus bermimpi untuk memperluas jangkauan pendidikannya ke Waisai, dengan membangun sekolah gratis dan menyeleksi anak-anak dari berbagai kampung. Harapannya, anak-anak ini dapat memperoleh pendidikan yang tinggi dan kembali untuk mengabdi di tanah mereka. Maya yakin, cahaya yang telah ia nyalakan di Raja Ampat akan terus bersinar, menerangi masa depan generasi Papua yang penuh harapan​.

“Setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang ramah, bersahabat, dan menghidupkan dunia mereka,” tegas Maya.

Melalui dedikasinya, ia telah menjadi sosok pembawa cahaya bagi anak-anak Papua, menjadikan impian mereka sebagai bagian dari mimpinya sendiri, dan bersama-sama menciptakan masa depan yang lebih baik.

Apa pun dilakukan Maya dan kawan-kawan untuk mendorong literasi dan pendidikan akan membuka cakrawala anak-anak di Raja Ampat. Ia ingin anak-anak ini bisa mendapatkan pendidikan dengan kualitas yang sama seperti yang ia terima saat sekolah di Bandung. (*)

 

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *