Badan Pusat Statistik merilis angka kemiskinan di Papua Barat pada September 2024 turun 0,57 persen dibandingkan Maret 2024.
Papuabratnews.id, Manokwari – Badan Pusat Statistik (BPS) Papua Barat mengungkapkan jumlah penduduk miskin di Papua Barat berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional pada September 2024 turun 0,57 persen menjadi 21,09 persen. Jumlah penduduk miskin pada September sebanyak 108,28 ribu jiwa, turun 1,88 ribu orang dibandingkan bulan Maret 2024 yang mencapai 110,16 ribu jiwa.
Kepala BPS Papua Barat Merry, Rabu (15/1/2025), memaparkan, persentase penduduk miskin pada September 2024 sebesar 21,09 persen, turun dari bulan Maret sebesar 21,66 persen. Namun angka ini masih jauh lebih tinggi daripada rata-rata nasional sebesar 8,57 persen.
”Kalau kita simak, jumlah penduduk miskin di wilayah Maluku dan Papua, Provinsi Papua Barat berada di urutan keenam, dimana Maluku Utara tercatat sebagai provinsi dengan jumlah penduduk miskin terendah (6,03 persen) dan Papua Pegunungan sebagai provinsi dengan jumlah penduduk miskin tertinggi (29,66 persen),” ujarnya.
Garis kemiskinan pada September 2024, menurut Merry, tercatat Rp 816.613 per kapita per bulan. Angka ini naik 2,87 persen dibandingkan Maret sebesar Rp 793.804 per kapita per bulan. Garis Kemiskinan di daerah Perkotaan lebih tinggi dibandingkan Perdesaan, yaitu masing-masing tercatat 944.616 per kapita per bulan di daerah Perkotaan dan 753.746 per kapita per bulan di Perdesaan.
“Secara total, Garis Kemiskinan di Provinsi Papua Barat meningkat 2,87 persen sepanjang periode Maret 2024 – September 2024,” ucapnya.
Selanjutnya, BPS mencatat rata-rata setiap rumah tangga miskin di Papua Barat memiliki 4,14 anggota rumah tangga. Dengan begitu, besarnya garis kemiskinan per rumah tangga miskin rata-rata sebesar Rp 3.380.777 per rumah tangga miskin per bulan.
Peran komoditas makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan nonmakanan. Pada September 2024 komoditas makanan menyumbang 74,67 persen pada garis kemiskinan.
Total komoditas yang memberi pengaruh besar terhadap garis kemiskinan di Papua Barat pada September 2024 berasal dari komoditas makanan dan bukan makanan. Untuk makanan, penyumbang terbesar adalah beras sebesar 21,20 persen di perkotaan dan 20,23 persen di perdesaan. Rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar kedua terhadap garis kemiskinan (9,77 persen di perkotaan dan 5,53 persen di perdesaan).
“Komoditi lainnya adalah tongkol/tuna/cakalang (4,06 persen di perkotaan dan 3,93 di perdesaan), telur ayam ras (3,55 persen di perkotaan dan 2,96 persen di perdesaan), mie instan (3,50 persen di perkotaan dan 3,05 persen di perdesaan), gula pasir (2,72 persen di perkotaan dan 2,57 persen di perdesaan), dan seterusnya,” papar Merry.
Adapun komoditas bukan makanan terdiri dari perumahan (12,26 persen di perkotaan dan 12,69 persen di perdesaan), listrik (2,53 di perkotaan dan 1,29 persen di perdesaan), bensin (2,34 persen di perkotaan dan 3,18 persen di perdesaan), perlengkapan mandi (1,70 persen di perkotaan dan 0,86 persen di perdesaan), pendidikan (1,53 persen di perkotaan), dan angkutan (0,75 persen di perdesaan).
“Sumbangan komoditi nonmakanan di daerah perkotaan lebih tinggi dibandingkan komoditi nonmakanan di perdesaan,” ujar Merry.
Yang juga menjadi perhatian, menurut Merry, terjadi ketimpangan pengeluaran rasio gini dari 0,389 pada Maret 2024 menjadi 0,385 pada September 2024. Artinya, gap pengeluaran penduduk kelas atas dan kelas bawah menurun tipis. (sem/pbn)


***
***





