Papuabaratnews.id, Manokwari – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua Barat mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Papua Barat pada Desember 2024 mengalami penurunan signifikan sebesar 1,13 persen dibandingkan bulan sebelumnya, menjadi 98,88.
Kepala BPS Papua Barat, Merry mengatakan, angka ini tidak hanya menjadi penurunan terdalam di Indonesia, tetapi juga menempatkan Papua Barat di posisi terakhir dari 14 provinsi di wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua).
“Penurunan NTP ini mengindikasikan semakin sulitnya para petani di Papua Barat untuk memenuhi kebutuhan konsumsinya hanya dari hasil produksi,” ujarnya dalam konferensi pers di Kantor BPS Papua Barat, Manokwari, amis (2/1/2024).
Menurut Merry, penurun NTP terjadi karena indeks harga yang diterima petani (IT) turun 0,65 persen menjadi 115,77. Lebih rendah dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani atau (IB) yang sebesar 0,27% menjadi 114,53.
“Komoditas yang dominan mempengaruhi kenaikan indeks harga yang diterima petani nasional adalah bayam, cabai rawit, terung dan jeruk,” ungkap dia.
Sementara itu, komoditas yang menyumbang indeks harga bayar petani (IB) antara lain bawang merah, bawang putih, telur ayam ras, dan pur.
Jika dilihat menurut sub sektor, hampir seluruh sub sektor mengalami penurunan NTP, kecuali perikanan dan perikanan tangkap/nelayan. Sub sektor yang mengalami penurunan terdalam adalah hortikultura yang turun 2,65 persen.
“Komoditas yang dominan mempengaruhi indeks harga yang diterima petani di sub sektor hortikultura adalah bayam, cabai rawit, dan terung,” katanya.
Selain itu, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP), yang mencerminkan kemampuan usaha petani, juga mengalami penurunan sebesar 0,64 persen menjadi 103,96. Kondisi ini mencerminkan tekanan yang signifikan pada sektor pertanian di Papua Barat.
Salah satu subsektor yang mencatat penurunan terbesar adalah hortikultura, dengan NTUP turun sebesar 1,99 persen, diikuti tanaman pangan yang turun 1,26 persen.
BPS menekankan pentingnya langkah strategis untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan memperkuat ketahanan sektor pertanian di Papua Barat.
“Dengan posisi di peringkat terakhir dari segi NTP dan NTUP di wilayah Sulampua, tantangan besar menghadang sektor pertanian daerah ini di tengah dinamika ekonomi yang ada,” kata Merry. (sem/pbn)


***
***





