Papuabaratnews.id, Halmahera Utara — Di Desa Mamuya, Kabupaten Halmahera Utara, upaya menyelamatkan satu spesies endemik perlahan mengubah masa depan sebuah desa. Burung Mamoa yang dahulu menghadapi ancaman akibat rusaknya habitat dan minimnya kesadaran masyarakat, kini menjadi simbol kebangkitan konservasi berbasis masyarakat.
Melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Maluku dan Papua (UIP MPA) bersama berbagai pemangku kepentingan menghadirkan perubahan yang tidak hanya menjaga kelestarian satwa, tetapi juga membuka ruang pemberdayaan serta harapan baru bagi masyarakat Desa Mamuya.
Di pesisir Pantai Wauwo yang menjadi habitat alami Burung Mamoa (Eulipoa wallacei), perubahan tersebut tampak nyata. Jika dahulu telur-telur Burung Mamoa rentan hilang akibat aktivitas manusia maupun predator alami, kini masyarakat justru menjadi garda terdepan dalam menjaga, memantau, dan memastikan setiap telur memiliki kesempatan untuk menetas serta kembali ke habitat alaminya.
Transformasi itu merupakan hasil kolaborasi PLN UIP MPA bersama Program Studi Kehutanan Universitas Halmahera (Uniera), Pemerintah Desa Mamuya, kelompok konservasi, dan masyarakat setempat melalui Program Desa Berdaya Mamuya. Program ini dirancang dengan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pelestarian keanekaragaman hayati, tetapi juga memperkuat kapasitas masyarakat agar mampu mengelola potensi lingkungan sebagai sumber kehidupan yang berkelanjutan.
Berbagai intervensi dilakukan secara terpadu, mulai dari perlindungan lokasi bertelur, penetasan semi alami, rehabilitasi ekosistem pesisir melalui penanaman mangrove, edukasi konservasi bagi masyarakat dan pelajar, hingga pengembangan wisata edukasi berbasis konservasi. Melalui pendekatan tersebut, konservasi tidak lagi dipandang sebagai aktivitas menjaga satwa semata, melainkan menjadi bagian dari upaya membangun masa depan desa.

Dampaknya mulai terlihat. Hingga kini, program telah mendukung penanganan lebih dari 230 butir telur Burung Mamoa melalui metode penetasan semi alami dengan tingkat keberhasilan yang terus meningkat. Ratusan masyarakat telah terlibat dalam berbagai kegiatan konservasi, sementara para pelajar memperoleh edukasi lingkungan sejak dini. Desa Mamuya pun perlahan dikenal sebagai salah satu contoh praktik konservasi berbasis masyarakat di Indonesia Timur.
Ketua Program Desa Berdaya Mamuya sekaligus dosen Program Studi Kehutanan Universitas Halmahera, Fiktor Imanuel Boleu, mengatakan keberhasilan program tidak hanya tercermin dari meningkatnya keberhasilan penetasan Burung Mamoa, tetapi juga dari tumbuhnya kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga lingkungan.
“Keberhasilan terbesar program ini bukan hanya ketika telur Burung Mamoa berhasil menetas, tetapi ketika masyarakat menjadikan konservasi sebagai bagian dari kehidupan mereka. Hari ini kami melihat warga dengan sukarela menjaga habitat, mengedukasi anak-anak, hingga terlibat aktif dalam setiap kegiatan pelestarian. Perubahan pola pikir seperti inilah yang menjadi fondasi utama keberlanjutan konservasi,” ujarnya.
Perubahan tersebut juga dirasakan langsung oleh masyarakat. Kepala Desa Mamuya, Budiman Djoma, mengungkapkan bahwa konservasi telah menghadirkan kebanggaan baru bagi warganya sekaligus membuka peluang pengembangan desa.
“Dulu banyak masyarakat yang belum memahami pentingnya Burung Mamoa bagi ekosistem. Sekarang kondisinya berbeda. Warga merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaganya. Kehadiran program ini juga membuat desa kami mulai dikenal sebagai kawasan konservasi yang banyak dikunjungi untuk belajar. Kami berharap manfaat ini terus berkembang sehingga dapat memberikan nilai tambah bagi kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya.
Selain menjaga keberlangsungan Burung Mamoa, program juga memperkuat kualitas ekosistem pesisir melalui penanaman mangrove yang berfungsi melindungi garis pantai, menjaga habitat biota pesisir, serta meningkatkan ketahanan lingkungan terhadap perubahan iklim. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa konservasi spesies dan pemulihan ekosistem merupakan dua hal yang saling berkaitan dalam menciptakan keberlanjutan.

General Manager PLN UIP MPA, Raja Muda Siregar, mengatakan Program Desa Berdaya Mamuya merupakan bagian dari komitmen PLN dalam menghadirkan nilai bersama (creating shared value), yakni keberhasilan pembangunan yang tidak hanya diukur dari aspek infrastruktur, tetapi juga dari dampak sosial dan lingkungan yang dirasakan masyarakat.
“PLN meyakini bahwa pembangunan yang berkelanjutan harus mampu menghadirkan manfaat bagi manusia sekaligus menjaga alam. Melalui Program Desa Berdaya Mamuya, kami tidak hanya berupaya melestarikan Burung Mamoa sebagai satwa endemik kebanggaan Maluku Utara, tetapi juga membangun kapasitas masyarakat agar menjadi pelaku utama konservasi. Ketika masyarakat tumbuh bersama lingkungannya, maka keberlanjutan tidak lagi menjadi sebuah program, melainkan menjadi budaya yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Raja.
Ia menambahkan, keberhasilan konservasi lahir dari kolaborasi berbagai pihak. Sinergi antara perusahaan, pemerintah, akademisi, dan masyarakat menjadi fondasi penting untuk memastikan setiap inisiatif yang dijalankan mampu memberikan dampak jangka panjang.
Di Desa Mamuya, setiap telur Burung Mamoa yang berhasil menetas bukan sekadar menandai lahirnya seekor satwa endemik. Lebih dari itu, menjadi simbol tumbuhnya kesadaran, kolaborasi, dan harapan baru. Bukti bahwa ketika masyarakat diberdayakan untuk menjaga alamnya, mereka sesungguhnya sedang membangun masa depan desanya sendiri. (pbn)


***
***





