banner 468x60 *** banner 468x60 ***

Berita  

Delegasi Tujuh Negara Studi Konservasi Laut di Raja Ampat

Bupati Raja Ampat Orideko Burdam menyambut tamu dari delegasi tujuh negara di Waisai, Raja Ampat, Selasa malam (10/2/2026). (ANTARA/Yuvensius Lasa Banafanu)
banner 120x600

Program ReSea memilih Bentang Laut Kepala Burung sebagai model percontohan dunia dalam penguatan ketahanan iklim dan ekonomi masyarakat pesisir, khususnya bagi negara-negara Afrika Timur dan Samudra Hindia Barat.

Papuabaratnews.id, Sorong – Delegasi dari tujuh negara melakukan studi lapangan terkait pengelolaan konservasi laut di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, untuk mempelajari praktik pengelolaan Bentang Laut Kepala Burung yang dinilai berhasil memadukan perlindungan ekosistem dan penguatan ekonomi masyarakat pesisir.

banner 325x300

Bupati Raja Ampat Orideko Iriano Burdam mengatakan kunjungan tersebut menambah daya tarik tersendiri untuk mendukung predikat Raja Ampat sebagai daerah pariwisata kelas dunia.

“Kami berharap komunikasi dan kerja sama ini tetap terjaga, sehingga kita bisa saling bertukar pikiran dalam menjaga alam kita bersama,” ujar Bupati Orideko di Sorong, Rabu (11/2/2026) dikutip Antara.

Ia juga mengajak para delegasi untuk turut mempromosikan Raja Ampat di negara masing-masing sebagai contoh pengelolaan laut berkelanjutan.

“Jika kembali ke negara masing-masing, jangan lupa ceritakan Raja Ampat, agar semakin banyak yang mengenal dan berkunjung ke daerah kami,” ucapnya.

Manajer Program Raja Ampat Konservasi Indonesia Meidiarti Kasmidi menjelaskan wilayah Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) atau Bird’s Head Seascape (BHS) pada Februari 2026 dipercaya menjadi tuan rumah pertukaran pengetahuan global melalui Program Regenerative Seascapes for People, Climate, and Nature (ReSea).

“Program ReSea memilih Bentang Laut Kepala Burung sebagai model percontohan dunia dalam penguatan ketahanan iklim dan ekonomi masyarakat pesisir, khususnya bagi negara-negara Afrika Timur dan Samudra Hindia Barat,” ujarnya.

Menurut dia, para delegasi mempelajari sejumlah aspek utama antara lain efektivitas pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan (KKP), penerapan sistem pendanaan berkelanjutan seperti retribusi pariwisata dan Blue Abadi Fund (BAF), hingga skema debt for nature swap.

Selain itu praktik kearifan lokal seperti sasi serta keterlibatan masyarakat adat dan perempuan dalam menjaga kelestarian laut, kata dia, turut menjadi perhatian dalam studi tersebut.

Kunjungan tersebut berlangsung dalam rangka ReSea Global Seascape Exchange: Learning from the Bird’s Head Seascape di Waisai, Selasa (10/2) dan dihadiri pejabat setingkat menteri, sekretaris negara, direktur jenderal, hingga pejabat daerah dari kawasan Afrika Timur dan Samudra Hindia Barat.

Delegasi yang hadir berasal dari Madagaskar, Mauritius, Komoro, Tanzania, Kenya, Mozambik, dan Sri Lanka.

Kegiatan ini difasilitasi aliansi organisasi internasional bersama Konservasi Indonesia (KI), antara lain Conservation International (CI), IUCN Great Blue Wall (GBW), Mission Inclusion, UNECA, serta Fauna & Flora International (FFI).

Melalui kegiatan itu, dia berharap para delegasi dapat mengadopsi praktik baik pengelolaan kawasan konservasi laut berbasis masyarakat untuk diterapkan di negara masing-masing guna mendukung keberlanjutan ekosistem laut global. (ant)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *