banner 468x60 *** banner 468x60 ***

Pers, Kemanusiaan, dan Etika Kebangsaan Mengemuka dalam Pertemuan PWI – MPR RI

Ketua MPR RI Ahmad Muzani (kanan) menerima cenderamata dari Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir saat audiensi Pengurus PWI Pusat di Gedung MPR RI/DPR RI, Jakarta, Selasa (13/1/2026). (Dok. PWI)
banner 120x600

Audiensi PWI Pusat dengan Ketua MPR RI menegaskan kembali peran pers sebagai penjaga nilai kemanusiaan, kebenaran, dan kepentingan bangsa di tengah perubahan lanskap jurnalistik.

Papuabaratnews.id, Jakarta –- Peran pers sebagai penjaga nilai kemanusiaan, kebenaran, dan kepentingan kebangsaan kembali ditegaskan dalam pertemuan Pengurus PusatPersatuan Wartawan Indonesia (PWI) dengan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI di Gedung MPR RI/DPR RI, Jakarta, Selasa (13/1/2026).

banner 325x300

Audiensi tersebut menjadi ruang refleksi bersama tentang posisi strategis pers dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya di tengah perubahan lanskap informasi di era digit

Dalam pertemuan itu, Ketua MPR RI Ahmad Muzanimembagikan pengalaman masa lalunya sebagai wartawan untuk menegaskan bahwa jurnalisme tidak hanya berkaitan dengan produksi berita, melainkan juga menyangkut pi

Ia mengenang proses ujian wartawan muda PWI DKI Jakarta yang diikutinya pada tahun 1991, di mana salah satu pertanyaan menyoal dilema etis saat wartawan berhadapan langsung dengan peristiwa kemanusiaan di lapangan.

“Pertanyaannya, jika dalam meliput kita menemukan kecelakaan di jalan, mana yang harus didahulukan, membantu korban atau menulis berita,” ujarnya.

Muzani menyebut, pilihannya saat itu adalah menolong korban terlebih dahulu sebelum menuliskan peristiwa tersebut. Baginya, kemanusiaan harus selalu berada di atas kepentingan profesi, termasuk dalam kerja jurnalistik. Nilai itulah yang menurutnya menjadi fondasi pers sebagai bagian dari kekuatan kebangsaan.

“Menjadi wartawan itu bukan sekadar profesi, tetapi panggilan hati. Mengatakan yang benar itu benar, dan yang salah itu salah,” kata Muzani, yang pernah berkiprah sebagai wartawan Majalah Amanah dan penyiar Radio Ramako.

Menurutnya, jurnalisme pada hakikatnya adalah kerja memperjuangkan kepentingan rakyat dan kebenaran publik, nilai yang tetap relevan meskipun seseorang telah berpindah peran dalam kehidupan berbangsa.

Menurutnya, esensi menjadi wartawan adalah memperjuangkan kebenaran dan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi. Nilai itu, kata dia, harus terus hidup meskipun seseorang telah berpindah peran.

“Saya tidak pernah merasa terpisah dari wartawan. Hati saya sampai sekarang masih wartawan,” ujarnya.

Muzani juga mengingatkan kembali nilai-nilai dasar PWI yang dirumuskan sejak Kongres PWI tahun 1946 di Solo, yang menempatkan pers sebagai alat perjuangan serta pengabdian kepada bangsa dan negara.

“Di PWI, wartawan itu disebut pejuang sebab memperjuangkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi,” tuturnya.

Lebih lanjut, Muzani juga menyinggung perubahan lanskap jurnalistik saat ini, di mana peran pewarta turut dijalankan oleh netizen dan konten kreator di ruang digital.

“Dari pemberitaan mereka, kita mengetahui bahwa ada bantuan yang belum sampai dan penanganan yang belum optimal,” ujarnya.

Ketua MPR RI Ahmad Muzani berfoto bersama jajaran Pengurus PWI Pusat usai audiensi yang membahas peran pers dalam kehidupan kebangsaan menjelang Hari Pers Nasional 2026. (Dok. PWI)

Sementara itu, Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir menyambut baik refleksi yang disampaikan Ketua MPR RI tersebut. Menurutnya, kisah itu menjadi pengingat penting bagi seluruh insan pers tentang esensi profesi wartawan.

“Apa yang disampaikan Ketua MPR menunjukkan bahwa jurnalisme sejati selalu bertumpu pada kebenaran dan kemanusiaan. Nilai-nilai inilah yang terus kita jaga di PWI,” kata Munir yang juga menjabat Ketua Dewan Pengawas LKBN ANTARA itu.

Menurut Munir, PWI sampai sekarang tetap memelihara dan merawat nilai-nilai luhur dari para pendiri, sebagai rumah besar wartawan Indonesia yang menjaga nilai-nilai perjuangan yang berkontribusi besar terhadap kemajuan bangsa dan negara.

Sekretaris Jenderal PWI Pusat Zulmansyah Sekedang menyampaikan bahwa pertemuan itu juga menjadi bagian dari komunikasi PWI dengan pimpinan lembaga negara menjelang pelaksanaan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Provinsi Banten.

“Kami secara resmi mengundang Ketua MPR RI untuk dapat hadir pada peringatan Hari Pers Nasional. Kehadiran beliau tentu akan menjadi kehormatan dan penguat semangat insan pers dalam menjalankan peran kebangsaan,” kata Zulmansyah yang juga Ketua Panitia HPN 2026.

Ia menyampaikan HPN merupakan momentum refleksi bersama antara pers dan negara dalam menjaga demokrasi, persatuan serta kepentingan nasional.

Audiensi dengan Ketua MPR RI tersebut turut dihadiri jajaran pengurus PWI Pusat lainnya, yakni Bendahara Umum Marthen Selamet Susanto, Ketua Bidang Kemitraan dan Kerjasama Ariawan beserta wakilnya Kadirah serta Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri Irfan Junaidi.

Hadir pula Wakil Sekretaris Jenderal Haryo Ristamadji, Ketua Departemen Hankam TNI-Polri Johnny Hardjojo, beserta wakilnya Musrifah dan Badar Subur, Ketua Departemen Parlemen Ade Candra, Ketua Departemen Seni, Musik, Film, dan Budaya Ramon Damora, Ketua Departemen Kajian dan Litbang Akhmad Sefudin dan Wakil Humas Akhmad Dani. (pbn)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *