banner 468x60 *** banner 468x60 ***

Berita  

Perayaan 1 Abad Aitumeri: Momen Refleksi Kebangkitan SDM OAP

Wakil Gubernur Papua Barat Mohamad Lakotani saat ditemui awak media di Manokwari, Senin (20/10/2025). (ANTARA/Fransiskus Salu Weking)
banner 120x600

Papuabaratnews.id, Manokwari — Wakil Gubernur Papua Barat Mohamad Lakotani mengatakan perayaan 1 abad atau 100 tahun Situs Aitumeri menjadi momentum refleksi kebangkitan sumber daya manusia orang asli Papua (OAP).

Situs Aitumeri di Distrik Wasior, Teluk Wondama, merupakan sejarah peradaban OAP mengenal pendidikan formal melalui Nubuatan Pendeta Dominee Izaack Samuel Kijne pada 25 Oktober 1925.

banner 325x300

“Perayaan 100 tahun menjadi momen refleksi dan introspeksi untuk memantapkan langkah ke depannya,” kata Lakotani di Manokwari, Senin (20/10/2025)m seperti dilansir dari Antara.

Dia menyebut, pemerintah daerah terus memperbaiki kualitas pembangunan sektor pendidikan, kesehatan, dan lainnya untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat OAP di seluruh Papua Barat.

Upaya itu ditandai dengan pelaksanaan tiga program unggulan tahun 2025, yaitu Papua Barat Cerdas, Papua Barat Sehat, dan Papua Barat Produktif dengan total anggaran mencapai Rp150 miliar.

“Tidak hanya dari aspek pendidikan, kesehatan, dan ekonomi tapi bagaimana penerapan aspek penegakan hukum serta HAM yang berkeadilan,” ucap Lakotani.

Anggota DPR RI Obet Rumbruren mengatakan, upaya Pemkab Teluk Wondama mengusulkan situs Aitumeri sebagai cagar budaya nasional perlu dipersiapkan secara matang.

Hal ini penting karena situs ini merupakan sejarah peradaban orang asli Papua (OAP) pertama kali mengenal pendidikan formal melalui Nubuatan Dominee Izaack Samuel Kijne.

“Situs ini bukan sekadar aset lokal, tapi memiliki makna historis yang sangat besar bagi sejarah pendidikan dan peradaban OAP,” kata Obet, Senin (20/10).

Dia menyebut, seluruh pemerintah daerah di Tanah Papua memiliki tanggung jawab moril menjaga kelestarian situs bersejarah tersebut, agar generasi muda tidak kehilangan identitas pada masa mendatang.

Ada sejumlah aspek yang harus diperhatikan pemerintah daerah sebelum mengajukan pengusulan Aitumeri menjadi cagar budaya, antara lain kelengkapan dokumen sejarah, dan penataan ulang situs.

“Tempat itu sakral. Penataan ulang tidak boleh menghilangkan nilai sejarah peradaban,” ujarnya.

Dia lalu menyarankan agar pemda memanfaatkan momen perayaan satu abad situs Aitumeri atau sejarah peradaban OAP untuk membahas konsep revitalisasi terpadu.

Bupati Teluk Wondama Elysa Auri menyebut sekolah yang didirikan Pendeta Izaack Samuel Kijne saat menjalani misi pewartaan agama Kristen di Tanah Papua kemudian berkembang menjadi pusat pendidikan formal.

Perayaan 100 tahun mendapat dukungan Kementerian Perhubungan dengan mengizinkan penggunaan KM Sinabung sebagai hunian terapung untuk mengatasi keterbatasan sarana akomodasi.

“Panitia memprediksi jumlah tamu dari seluruh Tanah Papua yang mengikut perayaan mencapai 20 ribu orang,” kata Elysa.

Kepala Kepolisian Resor Teluk Wondama Ajun Komisaris Besar Polisi Bayu Dewasto mengatakan, sebanyak 476 personel gabungan TNI-Polri dikerahkan untuk mengamankan perayaan satu abad Aitumeri.

Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Polres Kaimana dan Polres Nabire (Papua Tengah) untuk mendukung pengamanan mobilisasi jemaat dan tamu dari masing-masing daerah menuju Teluk Wondama.

“Ada sebagian dari Nabire dan Kaimana menggunakan jalur darat jadi perlu pengamanan. Sebagian besar pakai transportasi laut,” ucapnya. (ant)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *