banner 468x60 *** banner 468x60 ***

Berita  

Dinkes Buka Layanan Tes HIV dan Pengobatan ARV di Tujuh Kabupaten

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat dr Alwan Rimosan saat ditemui awak media di Manokwari. (ANTARA/Fransiskus Salu Weking)
banner 120x600

Papuabaratnews.id, Manokwari – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Papua Barat telah membuka layanan pemeriksaan Human Immunodeficiency Virus (HIV) sekaligus pengobatan antiretroviral (ARV) di tujuh kabupaten se-Papua Barat.

Kepala Dinkes Papua Barat Alwan Rimosan, mengatakan penanganan masalah HIV memerlukan peran kolaboratif antara pemerintah daerah, komunitas, dan lembaga masyarakat.

banner 325x300

“Sekarang skrining dan pengobatan sudah bisa diakses melalui fasilitas kesehatan yang ada di tiap kabupaten,” kata Alwan di Manokwari, Kamis (8/5/2025), seperti dilanasir dari Antara.

Berdasarkan data, kata dia, jumlah masyarakat di Papua Barat yang mengikuti pemeriksaan HIV sejak 2013 hingga April 2025 sekitar 214 ribu orang, dan hampir 6 ribu orang dinyatakan positif.

Pasien yang rutin mengonsumsi obat ARV untuk menghambat perkembangan virus dalam tubuh hanya 1.400 orang, namun sebagian besar tidak lagi menjalani pengobatan dengan berbagai alasan.

“Masih banyak kasus yang belum terdeteksi, atau belum ditangani secara medis dengan baik. Situasi ini seperti fenomena gunung es,” ujarnya.

Menurut dia, penularan HIV di Papua Barat sebagian besar disebabkan oleh hubungan seksual yang tidak aman, dan berganti-ganti pasangan tanpa penggunaan alat kontrasepsi.

Penularan HIV saat ini sangat mengkhawatirkan karena tidak terbatas pada kelompok berisiko tinggi seperti pengguna narkoba, dan PSK (pekerja seks komersial), melainkan kelompok usia produktif 20-29 tahun.

“Penularan dari ibu hamil positif HIV ke bayi juga jadi perhatian serius, terutama jika ibu tidak ikut program PMTCT,” jelas Alwan.

Dia mengatakan bahwa upaya yang dilakukan untuk mencegah penularan HIV meliputi, edukasi dan sosialisasi, skrining, pendistribusian alat kontrasepsi, serta peningkatan kerja sama lintas sektor.

Kegiatan sosialisasi dan edukasi melibatkan peran sekolah, komunitas lokal, lembaga adat, lembaga agama, dan lainnya termasuk menghapus stigma minor terhadap orang dengan HIV.

“Kita semua bisa ambil bagian menciptakan Papua Barat yang lebih sehat, bebas stigma, dan melawan penularan HIV/AIDS,” kata Alwan. (ant)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *