banner 468x60 *** banner 468x60 ***

Berita  

Menyulut Api Literasi di Honai Kopi: Menulis Storytelling untuk Papua

Pegiat literasi di Manokwari mengikuti pelatihan penulisan artikel kreatif yang diselenggarakan oleh Ruang Berbagi Manokwari, Papua Barat, Sabtu (19/10/2024). (Papuabaratnews/Istimewa)
banner 120x600

Papuabaratnews.id, Manokwari — Saat senja mulai menyelimuti langit Manokwari, langit yang awalnya biru perlahan berubah jingga keemasan. Di ujung barat, matahari yang hampir tenggelam memancarkan sinarnya yang terakhir, menerangi Honai Kopi dengan kehangatan yang terasa lembut. Jam menunjukkan pukul 16.00 ketika para pegiat literasi mulai berdatangan, membawa semangat yang berkobar dalam setiap langkah mereka.

Di tempat ini, sebuah lokakarya menulis kreatif bertema “Menulis Storytelling Pejuang Literasi” akan segera dimulai, menyatukan mereka yang berkomitmen untuk menyebarkan cahaya pengetahuan di Tanah Papua.

banner 325x300

Honai Kopi, sebuah kafe yang didesain sederhana dan dihiasi berbagai ornamen serta gambar rumah khas suku Dani ini, menawarkan suasana yang akrab dan penuh makna. Aroma kopi yang kuat bercampur dengan angin sore yang berhembus pelan, menghadirkan suasana yang pas untuk berkumpul dan berbagi cerita.

Di ruangan terbuka, lingkaran kursi telah tertata rapi mengelilingi sebuah kain putih yang digantung sebagai ganti layar (screen), seolah menunggu untuk dipenuhi oleh gagasan-gagasan segar dan penuh inspirasi.

Fransiskus Salu Weking, wartawan Lembaga Kantor Berita ANTARA sebagai narasumber pada kegiatan menulis artikel kreatif yang diselenggarakan oleh Ruang Berbagi Manokwari, Papua Barat, Sabtu (19/10/2024). (Papuabaratnews/Istimewa)

Para peserta, yang datang dari berbagai latar belakang—ada guru, mahasiswa, pegiat komunitas, dan penulis muda—semuanya berbagi satu tujuan: memperkuat gerakan literasi di Papua melalui kekuatan cerita. Mereka duduk dengan wajah penuh antusiasme, siap untuk terlibat dalam sesi berbagi dan belajar yang akan menggali lebih dalam tentang teknik menulis storytelling.

Lokakarya dibuka dengan sebuah sapaan hangat dari ketua sekaligus founder Ruang Berbagi Manokwari, Angela Torimtubun, seorang pegiat literasi yang telah lama mengabdikan diri untuk dunia literasi di Manokwari.

“Selamat datang di kelas menulis storytelling pejuang literasi! Kemampuan storytelling yang baik membantu teman-teman untuk menuangkan kisah-kisah inspiratif di rumah baca dan komunitas melalui tulisan dan bisa menginspirasi banyak orang,” ujarnya.

Kelas Menulis Storytelling Pejuang Literasi ini dimulai dengan cerita tentang pentingnya storytelling sebagai alat perjuangan dan kampanye literasi; bagaimana sebuah cerita dapat menggerakkan hati, menginspirasi perubahan, dan membangun kesadaran kolektif.

“Menulis bukan hanya tentang rangkaian kata, tetapi tentang menyampaikan pesan dan perjuangan,’ kata Samuel Sirken, Pemred Papua Barat News.

Ia menyebut, banyak cerita inspiratif dari para pejuang literasi yang tersebar di pelosok negeri. Mereka berjuang seorang diri dalam senyap untuk meningkatkan literasi. Sangat disayangkan jika kisah inspiratif mereka, hanya diketahui sedikit orang.

“Sepak terjang mereka selayaknya dipublikasikan agar menjadi inspirasi bagi yang  lainnya,” ucapnya.

Fransiskus Salu Weking, wartawan Lembaga Kantor Berita ANTARA, pada sesi selanjutnya membantu para peserta untuk belajar memahami dasar-dasar penulisan feature, elemen-elemen penting dari feature, bagaimana tahapan pembuatannya, dan teknik menulis feature yang memikat.

“Feature adalah teknik bercerita dalam berita. Ia menghidupkan imajinasi pembaca; menarik pembaca masuk ke dalam cerita dengan membantunya mengidentifikasikan diri dengan tokoh utama,” ujarnya..

Akhirnya setiap peserta pun diminta untuk menuliskan feature pengalamannya sendiri atau kisah tentang seorang pejuang literasi dengan menggunakan tenik storytelling.

Saat mereka mulai menulis, suasana menjadi hening. Hanya terdengar gesekan pensil di atas kertas, ketukan jari di papan ketik, dan sesekali desahan angin yang menyusup masuk melalui jendela terbuka.

Pegiat literasi di Manokwari mengikuti pelatihan penulisan artikel kreatif yang diselenggarakan oleh Ruang Berbagi Manokwari, Papua Barat, Sabtu (19/10/2024). (Papuabaratnews/Istimewa)

Waktu terus berlalu, dan di saat matahari benar-benar tenggelam di ufuk barat, satu per satu peserta mulai berbagi hasil tulisan mereka. Kisah-kisah itu hadir dengan nuansa yang berbeda, tetapi semuanya menggambarkan perjuangan dan harapan yang sama: menyebarkan literasi dan mengubah hidup orang-orang di sekitarnya.

Di akhir lokakarya, ketika malam mulai menyelimuti Honai Kopi dengan gelapnya, suasana keakraban semakin terasa. Para peserta saling bertukar cerita, gagasan, dan rencana untuk terus menghidupkan gerakan literasi di Papua.

Angela lalu menutup acara dengan sebuah pesan singkat, “Jangan berhenti menulis. Teruslah menjadi suara bagi mereka yang tak bisa bersuara. Jadilah pejuang literasi di setiap kata yang kalian tuliskan.”

Dengan semangat yang diperbaharui, para pegiat literasi itu meninggalkan Honai Kopi, membawa pulang lebih dari sekadar pengalaman menulis. Mereka pulang dengan api perjuangan yang baru, siap untuk melanjutkan kisah tentang bagaimana literasi dapat mengubah masa depan Papua, satu cerita dalam satu waktu. (sem)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *