Sebanyak 1.294 titik panas terdeteksi di Papua Barat, Fakfak menjadi wilayah terbanyak dengan 659 titik.
Papuabaratnews.id, Manokwari — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Papua Barat mengupayakan operasi modifikasi cuaca (OMC) dan pemadaman melalui udara untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah kabupaten.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Papua Barat, Danang Tri Soesilo, mengatakan pemerintah provinsi telah berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan BP LNG Tangguh untuk mendapatkan dukungan penanganan karhutla melalui udara.
“Kami sedang membangun komunikasi untuk penanganan melalui udara, baik dengan skema water bombing maupun operasi modifikasi cuaca,” kata Danang di Manokwari, Senin (5/10/2026).
Menurut dia, pemadaman melalui udara dibutuhkan karena penanganan menggunakan peralatan dari jalur darat menghadapi berbagai kendala. Selain keterbatasan personel dan peralatan, petugas juga kesulitan menjangkau sejumlah lokasi kebakaran.
Kondisi tersebut, kata Danang, antara lain terjadi di Kabupaten Fakfak. Pemadaman karhutla di wilayah itu cukup sulit karena sebagian kawasan terdampak ditumbuhi alang-alang, sedangkan sebagian lainnya merupakan lahan gambut.
“Pemadaman yang dilakukan menggunakan peralatan di darat sangat susah karena banyak hambatan. Makanya, kami membutuhkan skema operasi modifikasi cuaca atau OMC,” ujarnya.
Fakfak Catat 659 Titik Panas
Danang menjelaskan, BPBD Papua Barat sebelumnya mendapat dukungan dua helikopter water bombing dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan LNG Tangguh untuk menangani karhutla pada September 2026.
Dua helikopter tersebut kemudian dialihkan ke Kalimantan setelah operasi pemadaman karhutla di Papua Barat saat itu dinyatakan selesai.
Namun, titik panas kembali terdeteksi dalam jumlah besar. Berdasarkan pemantauan per 1 Oktober 2026, tercatat sebanyak 1.294 titik panas (hotspot) tersebar di sejumlah kabupaten di Papua Barat.
“Fakfak menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 659 titik, sementara kebakaran juga masih terpantau di Kabupaten Teluk Bintuni,” kata Danang.
Selain karhutla yang terjadi di wilayah Papua Barat, BPBD juga mencermati kabut asap yang menyelimuti sejumlah daerah, termasuk Manokwari.
Menurut Danang, kabut asap tersebut turut dipengaruhi pergerakan massa udara yang membawa asap dari wilayah Papua Selatan dan Papua Nugini (PNG).
BPBD Papua Barat kemudian berkoordinasi dengan BPBD Merauke, Papua Selatan, untuk memastikan kondisi kebakaran dan sebaran kabut asap yang bergerak mengikuti arah angin hingga memengaruhi wilayah Kepala Burung Papua.
“Berdasarkan pemantauan per 1 Oktober 2026, wilayah Papua Selatan tercatat memiliki 2.658 titik panas yang sebagian besar terpantau di Kabupaten Merauke,” ujarnya.
BPBD Papua Barat terus memantau perkembangan titik panas dan pergerakan kabut asap. Hasil pemantauan tersebut menjadi dasar untuk menentukan langkah penanganan bersama pemerintah pusat dan pihak terkait, termasuk kemungkinan kembali menggunakan pemadaman melalui udara maupun operasi modifikasi cuaca. (pbn)







