Berita  

Bagaimana Deforestasi Bisa Tingkatkan Penularan Penyakit

Kawasan hutan yang dibuka untuk lahan pertambangan batu bara di Samarinda, Kalimantan Timur, 3 Juli 2025. Menurut data dari Kementerian Kehutanan, angka deforestasi netto 2024 tercatat sebesar 175,4 ribu hektare, angka itu didapat dari deforestasi bruto sebesar 216,2 ribu hektare dikurangi hasil reforestasi seluas 40,8 ribu hektare dengan mayoritas deforestasi bruto terjadi di hutan sekunder dengan luas 200,6 ribu hektare (92,8 persen). (Antara/M Risyal Hidayat)
banner 120x600

Banyak penelitian menunjukkan wilayah dengan tingkat deforestasi tinggi memiliki populasi nyamuk lebih melimpah dan risiko penyakit lebih besar.

Papuabaratnews.id, Jakarta – Deforestasi tidak hanya memicu krisis lingkungan, tetapi juga memberi ancaman serius bagi kesehatan manusia. Hilangnya tutupan hutan secara permanen terbukti meningkatkan populasi nyamuk dan risiko penularan penyakit terutama di wilayah bekas hutan yang kini menjadi kawasan permukiman.

banner 325x300

Deforestasi merupakan proses hilangnya tutupan hutan secara permanen akibat campur tangan manusia. Aktivitas tersebut mengubah kawasan berhutan menjadi lahan nonhutan secara irreversibel dan melenyapkan fungsi ekologis hutan.

“Hutan memiliki peran utama sebagai habitat flora dan fauna, penyeimbang siklus air, serta pengatur iklim. Ketika hutan hilang, seluruh fungsi tersebut ikut lenyap,” ujar ahli entomologi di IPB University, Upik Kesumawati Hadi, melalui keterangan tertulis, pada Minggu (15/2/2026).

Deforestasi, kata dia, umumnya terjadi di kawasan hutan yang berbatasan langsung ataupun disebabkan langsung oleh aktivitas manusia, seperti pertanian, perkebunan, pertambangan, dan permukiman. Menurutnya, konversi kawasan hutan untuk kepentingan tertentu menyebabkan hilangnya vegetasi dan ekosistem hutan secara permanen.

“Dampak paling serius dari kondisi tersebut adalah hilangnya habitat alami flora dan fauna, terutama spesies endemik. Deforestasi yang terus berlanjut dapat menyebabkan kepunahan berbagai jenis makhluk hidup yang tidak dapat dihindari,” ucap perempuan bergelar profesor di Fakultas Kedokteran Hewan ini.

Ledakan Nyamuk

Upik mengatakan, hilangnya hutan juga berdampak langsung pada perilaku nyamuk. Ketika habitat alami satwa liar rusak, nyamuk kehilangan inang alaminya dan beralih menggigit manusia. “Manusia yang bermukim di kawasan bekas hutan menjadi target paling mudah sebagai sumber darah utama,” katanya.

Banyak laporan penelitian menunjukkan wilayah dengan tingkat deforestasi tinggi memiliki populasi nyamuk yang lebih melimpah dan risiko penyakit yang lebih besar. Hal itu karena berkurangnya keanekaragaman hayati menghilangkan penyangga alami penularan penyakit. “Sehingga manusia semakin sering menjadi sumber darah utama nyamuk yang bersifat oportunis.”

Nyamuk dikenal sebagai vektor berbagai penyakit berbahaya, seperti demam berdarah dengue (DBD), Zika, chikungunya, malaria zoonotik, dan demam kuning. “Kondisi ini menjadi peringatan bahwa kerusakan hutan bukan hanya krisis lingkungan, tetapi juga ancaman nyata bagi kesehatan manusia,” kata Upik menegaskan.

Sebagai upaya pencegahan, Upik menekankan upaya reboisasi dan penghijauan, pengawasan hutan melalui aparat dan teknologi satelit, serta penegakan hukum yang tegas disertai edukasi masyarakat. Ia juga menyoroti perlunya peran aktif masyarakat juga dalam mendukung pelestarian hutan, mulai dari kampanye lingkungan hingga pemanfaatan sumber daya hutan secara bijak dan bertanggung jawab. (tem)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *