Pertumbuhan ekonomi Papua Barat triwulan I 2026 ditopang konsumsi pemerintah dan domestik, sementara ekspor terkontraksi dan memicu kekhawatiran terhadap ketahanan ekonomi daerah.
Papuabaratnews.id, Manokwari –- Ekonomi Provinsi Papua Barat pada triwulan I 2026 mencatat pertumbuhan 4,64 persen secara tahunan (year-on-year). Namun di balik capaian tersebut, kinerja ekspor justru mengalami kontraksi tajam, menandakan adanya tekanan pada sektor eksternal.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Papua Barat, Merry, menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi daerah saat ini lebih banyak ditopang oleh aktivitas domestik, terutama konsumsi pemerintah dan rumah tangga.
“Sebagian besar komponen pengeluaran mengalami pertumbuhan, kecuali ekspor barang dan jasa yang mengalami penurunan,” ujar Merry dalam konferensi pers di Manokwari, Selasa (5/5/2026).
Secara struktur, ekspor sebenarnya masih menjadi komponen terbesar dalam pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Papua Barat. Namun, kontraksi yang terjadi menunjukkan bahwa mesin pertumbuhan ekonomi dari sektor eksternal sedang melemah, sehingga peran konsumsi domestik menjadi semakin dominan.
Di sisi lain, konsumsi pemerintah tercatat sebagai sumber pertumbuhan terbesar dari sisi pengeluaran, dengan kontribusi mencapai 1,90 persen. Kondisi ini mengindikasikan bahwa belanja negara masih menjadi penopang utama pergerakan ekonomi daerah, terutama di tengah melemahnya ekspor.
“Peran konsumsi pemerintah cukup besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Papua Barat pada triwulan I-2026,” kata Merry.
Selain faktor pengeluaran, dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi Papua Barat juga ditopang oleh sektor industri pengolahan. Sektor ini menjadi sumber pertumbuhan terbesar dengan kontribusi sebesar 2,39 persen terhadap total pertumbuhan ekonomi.
Dominasi industri pengolahan tersebut mempertegas posisi Papua Barat sebagai daerah dengan basis ekonomi yang masih bertumpu pada sektor-sektor skala besar, termasuk industri berbasis sumber daya alam dan pengolahan hasil tambang maupun migas.

Tak hanya itu, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum juga mencatatkan pertumbuhan tertinggi di antara seluruh lapangan usaha. Kondisi ini memberi sinyal adanya peningkatan aktivitas konsumsi masyarakat serta mobilitas ekonomi, yang turut mendorong pertumbuhan sektor jasa.
Namun demikian, struktur ekonomi Papua Barat masih menunjukkan ketergantungan pada sektor utama seperti industri pengolahan dan pertambangan. Kedua sektor ini secara gabungan menyumbang porsi terbesar dalam distribusi PDRB, sehingga fluktuasi pada sektor tersebut sangat berpengaruh terhadap kinerja ekonomi secara keseluruhan.
Di tingkat regional, kontribusi Papua Barat terhadap perekonomian wilayah Maluku dan Papua tercatat sebesar 12,34 persen. Angka ini masih berada di bawah Papua Tengah yang menjadi kontributor terbesar di kawasan tersebut.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun ekonomi Papua Barat tumbuh positif, daya saing dan kontribusinya dalam skala regional masih menghadapi tantangan.
Lebih jauh, fenomena pertumbuhan ekonomi yang tetap positif di tengah kontraksi ekspor mencerminkan adanya pergeseran sumber pertumbuhan. Jika sebelumnya ekspor menjadi motor utama, kini peran tersebut mulai bergeser ke konsumsi domestik dan belanja pemerintah.
Di satu sisi, kondisi ini dapat menjadi bantalan (buffer) bagi perekonomian daerah ketika terjadi tekanan global. Namun di sisi lain, ketergantungan yang tinggi terhadap belanja pemerintah juga berpotensi menimbulkan risiko apabila terjadi penurunan anggaran atau perlambatan realisasi belanja.
Ekonom melihat, kondisi ini perlu direspons dengan strategi diversifikasi ekonomi, terutama dengan memperkuat sektor-sektor non-ekstraktif serta meningkatkan daya saing ekspor daerah.
Selain itu, penguatan sektor hilirisasi industri juga dinilai penting untuk meningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap ekspor bahan mentah.
Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi Papua Barat ke depan tidak hanya bergantung pada konsumsi domestik, tetapi juga mampu didorong oleh sektor eksternal yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Merry menegaskan, meskipun terdapat tekanan pada ekspor, kinerja ekonomi Papua Barat secara umum masih menunjukkan tren positif.
“Secara keseluruhan, ekonomi Papua Barat tetap tumbuh dan menunjukkan peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” ujarnya.
Ke depan, stabilitas pertumbuhan akan sangat ditentukan oleh kemampuan daerah dalam menjaga keseimbangan antara konsumsi domestik dan kinerja sektor eksternal, termasuk ekspor. (pbn)


***
***





