banner 468x60 *** banner 468x60 ***

Ekspor Papua Barat Anjlok 18,78 Persen, Industri Pengolahan Terpukul

Ilustrasi pengapalan pertama kargo LNG untuk Provinsi Papua Barat oleh PT Padoma Ubodari Energy di Distrik Sumuri, Kabupaten Teluk Bintuni. Aktivitas pengapalan ini menjadi krusial di tengah fluktuasi kinerja ekspor Papua Barat yang sangat bergantung pada sektor bahan bakar mineral untuk menopang pertumbuhan ekonomi daerah. (Dok Istimewa)
banner 120x600

Kinerja ekspor Papua Barat mulai tertekan dengan penurunan kumulatif 18,78 persen, meski Maret 2026 sempat naik 16,36 persen. Pelemahan ekspor nonmigas dan tingginya ketergantungan pada bahan bakar mineral menjadi faktor utama yang membayangi industri pengolahan di daerah ini.

Papuabaratnews.id, Manokwari –- Kinerja ekspor Papua Barat pada awal 2026 menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat total nilai ekspor Papua Barat secara kumulatif sepanjang Januari–Maret 2026 mencapai US$726,644 miliar. Nilai ekspor tersebut anjlok 18,78 persen dibandingkan periode Januari-Maret 2025.

banner 325x300

Kepala BPS Papua Barat, Merry, mengatakan kontraksi tersebut diakibatkan turunnya ekspor nonmigas. Itu termasuk turunnya kinerja sektor industri pengolahan yang sebesar 39,29 persen.

“Secara kumulatif, nilai ekspor Papua Barat mengalami penurunan cukup dalam, terutama karena turunnya ekspor nonmigas,” ujar Merry dalam konferensi pers di Manokwari, Senin (4/5/2026).

Meski demikian, secara bulanan kinerja ekspor pada Maret 2026 menunjukkan perbaikan. Nilai ekspor tercatat sebesar US$268,60 juta, naik 16,36 persen dibanding Februari 2026 yang sebesar US$230,84 juta .

Namun, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, nilai ekspor justru mengalami penurunan signifikan. Data BPS menunjukkan ekspor Maret 2026 turun 19,60 persen (year-on-year) .

Penurunan ini tidak lepas dari kinerja ekspor nonmigas yang mengalami kontraksi lebih dalam. Secara kumulatif, ekspor nonmigas turun hingga 19,96 persen, sementara ekspor migas juga mengalami penurunan sebesar 18,77 persen .

Struktur ekspor Papua Barat yang sangat bergantung pada industri pengolahan berbasis sumber daya alam, khususnya bahan bakar mineral, membuat kinerja ekspor menjadi sangat rentan terhadap fluktuasi global. Pada Maret 2026, komoditas bahan bakar mineral masih mendominasi ekspor dengan nilai mencapai US$265,78 juta atau sekitar 98,95 persen dari total ekspor .

“Ketergantungan yang tinggi terhadap satu komoditas utama membuat ekspor Papua Barat mudah terdampak oleh perubahan harga dan permintaan global,” jelas Merry.

Selain faktor struktur ekspor, pelemahan permintaan global dari negara mitra dagang utama juga turut memengaruhi kinerja ekspor. Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan masih menjadi tujuan utama ekspor Papua Barat, dengan kontribusi terbesar berasal dari Jepang sebesar 38,96 persen .

Di sisi lain, meski ekspor mengalami tekanan, neraca perdagangan Papua Barat masih mencatat surplus. Pada Maret 2026, surplus neraca perdagangan tercatat sebesar sekitar US$263,02 juta, yang ditopang oleh kuatnya ekspor migas .

Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun nilai ekspor masih tinggi secara nominal, tren penurunan yang terjadi menjadi sinyal perlunya diversifikasi ekonomi, terutama dalam mendorong penguatan sektor nonmigas dan industri pengolahan yang lebih beragam.

Dengan tekanan pada ekspor nonmigas dan ketergantungan tinggi terhadap komoditas energi, Papua Barat dihadapkan pada tantangan untuk memperkuat daya saing industri dan memperluas basis ekspor ke sektor yang lebih bernilai tambah. (pbn)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *