Inflasi terutama didorong oleh kenaikan tarif transportasi, khususnya angkutan udara yang memberikan andil signifikan terhadap inflasi bulan April.
Papuabaratnews.id, Manokwari –- Kenaikan harga tiket pesawat menjadi pemicu utama melonjaknya inflasi di Provinsi Papua Barat pada April 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) mencapai 2,00 persen, jauh lebih tinggi dibanding tren sebelumnya.
Kepala BPS Papua Barat, Merry, menyampaikan bahwa sektor transportasi menjadi penyumbang terbesar inflasi.
“Inflasi terutama didorong oleh kenaikan tarif transportasi, khususnya angkutan udara yang memberikan andil signifikan terhadap inflasi bulan April,” ujar Merry dalam konferensi pers di Manokwari, Senin (4/5/2026).
Berdasarkan data BPS, kelompok transportasi mencatat inflasi tertinggi secara bulanan yakni 10,88 persen, dengan andil mencapai 1,30 persen terhadap inflasi total. Kenaikan ini terutama dipicu oleh lonjakan tarif angkutan udara yang menjadi komoditas dominan penyumbang inflasi.
Dalam periode April 2026, harga tiket pesawat domestik dilaporkan mengalami kenaikan hingga 13 persen. Pemerintah menyebut kenaikan ini tidak terhindarkan karena dipicu melonjaknya harga avtur di pasar global, yang merupakan komponen terbesar dalam biaya operasional maskapai.
Di Papua Barat, dampak kenaikan ini sangat terasa. Harga tiket pesawat rute Manokwari–Sorong yang biasanya berada di kisaran Rp800.000–Rp900.000, melonjak menjadi sekitar Rp1.100.000 hingga Rp1.300.000.
Merry juga menyebut bahwa secara tahunan (year-on-year/y-on-y), kelompok transportasi mengalami inflasi hingga 12,09 persen, tertinggi dibanding kelompok pengeluaran lainnya . Bahkan, komoditas angkutan udara sendiri menyumbang inflasi tahunan sebesar 1,13 persen.
Selain transportasi, beberapa komoditas lain seperti tomat, ikan layang, dan ikan tuna turut memberikan tekanan inflasi bulanan. Namun, dampaknya tidak sebesar sektor transportasi.
Secara umum, inflasi tahunan Papua Barat pada April 2026 tercatat 5,00 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 112,30. Sementara itu, inflasi tahun kalender (year-to-date/ y-to-d) berada di angka 1,41 persen.
Merry menjelaskan, kondisi geografis Papua Barat yang bergantung pada transportasi udara menjadi faktor utama tingginya sensitivitas inflasi terhadap kenaikan tarif pesawat.
“Distribusi barang dan mobilitas masyarakat di Papua Barat sangat bergantung pada transportasi udara, sehingga setiap kenaikan tarif akan langsung berdampak pada harga-harga,” jelasnya.
Fenomena ini juga memperlihatkan bahwa tekanan inflasi di Papua Barat tidak hanya dipengaruhi oleh harga pangan, tetapi juga oleh biaya logistik dan konektivitas wilayah.
Di sisi lain, beberapa komoditas justru mengalami penurunan harga atau deflasi, seperti cabai rawit dan telur ayam ras, meski tidak cukup kuat menahan laju inflasi secara keseluruhan.
BPS mencatat, sepanjang April 2026 seluruh wilayah pemantauan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Papua Barat mengalami inflasi, dengan Manokwari menjadi daerah dengan inflasi tertinggi.
Kondisi ini menjadi sinyal bahwa stabilitas harga di Papua Barat sangat dipengaruhi oleh dinamika sektor transportasi, khususnya penerbangan, yang masih menjadi tulang punggung distribusi barang dan jasa di wilayah tersebut. (pbn)


***
***





