banner 468x60 *** banner 468x60 ***

Neraca Perdagangan Papua Barat Surplus US$308,47 Juta pada Desember 2025

Terminal LNG Tangguh di Teluk Bintuni, Papua Barat. Ekspor bahan bakar mineral mendominasi struktur ekspor Papua Barat. (Dok. Istimewa)
banner 120x600

Didorong lonjakan ekspor bahan bakar mineral, dengan Korea Selatan sebagai tujuan utama.

Papuabaratnews.id, Manokwari – Neraca perdagangan Provinsi Papua Barat pada Desember 2025 mencatat surplus sebesar US$308,47 juta. Dari sisi volume, surplus juga tercatat sebesar 662,39 ribu ton, seiring nilai dan volume ekspor yang jauh lebih besar dibandingkan impor.

banner 325x300

Statistisi Madya BPS Provinsi Papua Barat, Lasmini, menjelaskan bahwa surplus tersebut ditopang oleh kinerja ekspor yang meningkat signifikan pada Desember 2025.

“Neraca perdagangan Papua Barat pada Desember 2025 mengalami surplus sebesar US$308,47 juta. Jika dilihat dari volume, surplus juga tercatat sebesar 662,39 ribu ton karena nilai dan volume ekspor lebih besar dibandingkan impor,” kata Lasmini dalam siaran pers Berita Resmi Statistik di Manokwari, Senin (2/2/2026).

BPS mencatat, nilai ekspor Papua Barat pada Desember 2025 mencapai US$313,43 juta, meningkat 15,17 persen dibandingkan November 2025 yang sebesar US$272,14 juta. Jika dibandingkan Desember 2024, ekspor juga tumbuh 2,46 persen. Kenaikan tersebut dipicu oleh meningkatnya ekspor migas dan nonmigas.

Komoditas ekspor terbesar masih didominasi oleh bahan bakar mineral (HS27) dengan nilai ekspor sebesar US$308,34 juta, atau setara 98,38 persen dari total ekspor Papua Barat pada Desember 2025.

“Bahan bakar mineral masih menjadi tulang punggung ekspor Papua Barat, dengan kontribusi hampir seluruh nilai ekspor pada Desember 2025,” jelas Lasmini.

Selain bahan bakar mineral, komoditas ekspor lainnya meliputi perhiasan atau permata, garam dan belerang, kayu dan barang dari kayu, serta ikan dan udang, meskipun kontribusinya relatif kecil.

Dari sisi negara tujuan, Korea Selatan tercatat sebagai negara tujuan ekspor utama Papua Barat dengan nilai ekspor sebesar US$117,13 juta, atau berkontribusi 37,37 persen terhadap total ekspor. Negara tujuan ekspor terbesar berikutnya adalah Tiongkok sebesar US$94,33 juta, Jepang sebesar US$65,37 juta, dan Thailand sebesar US$33,63 juta.

Untuk jalur pengiriman, ekspor Papua Barat pada Desember 2025 dilakukan melalui tiga pelabuhan laut dan satu pelabuhan udara. Ekspor terbesar berasal dari Pelabuhan Laut Bintuni dengan nilai ekspor US$308,34 juta atau 98,38 persen dari total ekspor. Sisanya melalui Bandara Soekarno-Hatta, Pelabuhan Manokwari, dan Pelabuhan Tanjung Perak.

Sementara itu, nilai impor Papua Barat pada Desember 2025 tercatat sebesar US$4,96 juta, meningkat 100,00 persen dibandingkan November 2025 yang tidak mencatat aktivitas impor. Seluruh impor tersebut berasal dari bahan bakar mineral (HS27) dengan kontribusi 100,00 persen.

“Impor Papua Barat Desember 2025 seluruhnya berasal dari bahan bakar mineral, dengan Australia sebagai satu-satunya negara asal impor,” kata Lasmini.

BPS mencatat, Australia menjadi satu-satunya negara asal impor Papua Barat dengan nilai impor sebesar US$4,96 juta atau 100,00 persen dari total impor.

Secara keseluruhan, BPS menilai surplus neraca perdagangan Papua Barat pada Desember 2025 mencerminkan kuatnya kinerja ekspor daerah, terutama sektor energi dan migas. Namun, tingginya ketergantungan pada satu komoditas utama juga menunjukkan struktur ekspor Papua Barat yang masih sangat terkonsentrasi pada sektor bahan bakar mineral. (pbn)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *