banner 468x60 *** banner 468x60 ***

Industri Pengolahan Jadi Penopang Utama Pertumbuhan Ekonomi Papua Barat Triwulan II-2025

Tangguh LNG di Bintuni, Papua Barat. (Dok bp Indonesia)
banner 120x600

Papuabaratnews.id, Manokwari – Badan Pusat Statistik (BPS) Papua Barat mencatat perekonomian Papua Barat pada Triwulan II-2025 tumbuh 11,11 persen secara kumulatif terhadap periode yang sama tahun sebelumnya (c-to-c). Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh lapangan usaha industri pengolahan yang menjadi sumber pertumbuhan terbesar sebesar 7,05 persen.

Kepala BPS Papua Barat, Merry, menjelaskan bahwa pada semester I-2025, lapangan usaha industri pengolahan tumbuh 16,70 persen, disusul pertambangan dan penggalian (13,10 persen) serta informasi dan komunikasi (12,10 persen). Struktur PDRB Papua Barat menurut lapangan usaha didominasi oleh industri pengolahan dengan kontribusi 39,86 persen, diikuti pertambangan dan penggalian (25,60 persen) dan administrasi pemerintahan (8,57 persen).

banner 325x300

“Industri pengolahan menjadi motor penggerak utama perekonomian Papua Barat pada semester I-2025, mencerminkan semakin kuatnya basis pengolahan hasil sumber daya di daerah ini,” ujar Merry saat menyampaikan Berita Resmi Statistik di kantor BPS Papua Barat, Manokwari, Selasa (5/8/2025).

Dari sisi lapangan usaha, hampir seluruh sektor ekonomi di Papua Barat tumbuh, kecuali jasa keuangan dan asuransi serta jasa kesehatan. Pertumbuhan tertinggi setelah industri pengolahan dicatat oleh sektor pertambangan dan penggalian.

Sementara itu, dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa menjadi penyumbang pertumbuhan tertinggi dengan lonjakan 19,69 persen (c-to-c). Komponen ini bersama konsumsi rumah tangga menjadi kontributor utama pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Papua Barat.

Secara nilai, PDRB Papua Barat pada Triwulan II-2025 tercatat mencapai Rp 20,32 triliun atas dasar harga berlaku (ADHB) atau Rp 13,10 triliun atas dasar harga konstan 2010 (ADHK).

Secara spasial, Papua Barat menjadi provinsi dengan laju pertumbuhan tertinggi kedua di wilayah Maluku dan Papua setelah Maluku Utara, dengan kontribusi 13,09 persen terhadap perekonomian kawasan.

“Capaian ini menunjukkan penguatan kinerja ekonomi daerah dibandingkan tahun lalu. Tantangan ke depan adalah menjaga momentum ini, terutama melalui peningkatan nilai tambah di sektor pengolahan,” kata Merry.

Meski secara kumulatif tumbuh kuat, BPS mencatat bahwa jika dibandingkan Triwulan II-2025 dengan Triwulan II-2024 (y-on-y), ekonomi Papua Barat mengalami kontraksi 0,23 persen, dipengaruhi penurunan di beberapa sektor, seperti pengadaan listrik dan gas (-3,39 persen) serta pertambangan dan penggalian (-3,13 persen). Namun, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum justru tumbuh paling tinggi (11,71 persen) pada periode ini. (sem)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *